Antara Takdir dan Pilihan
Pernahkah bertanya-tanya, “apakah semua yang kita jalani hari ini adalah hasil dari pilihan yang sudah dan akan kita ambil ataukah ini semua pilihan Allah semata yang Dia pilihkan untuk kita?
Adakah andil kita di dalamnya? Atau hanya Allah yang boleh memilihkannya?”
“Adakah andil manusia di kehidupan yang dijalaninya?” Ada.
Lalu, bagian manakah yang kita punya andil atas hidup kita?
Semuanya? Sebagian? Atau hanya sebagian kecil saja?
Jatuh sakit itu memang takdir sih...
Tapi kalau sebab munculnya sakit itu karena kita sendiri, itu lain lagi!
Bukannya semua yang ada di diri kita ini hanya titipan? Termasuk salah satunya adalah kesehatan
Nanti kalau “Yang Punya” nanya, mau jawab apa? “Iya ya Allah, aku kebanyakan makan micin”, *eh?
"sebenernya kita punya andil gak sih terhadap hidup kita sendiri?" "apa selama ini ternyata kita "dipaksa" melakukan/meninggalkan suatu perbuatan: baik/buruk? atau malah sebenernya kita dikasih kebebasan memilih?"
Ternyata kita punya "andil" dalam hidup kita. Yap! Itu makanya kita dihisab atas segala perbuatan kita, bagaimana kita menyikapi hal tertentu.
Contohnya, Allah menciptakan manusia itu berpasang-pasangan. Allah sudah menetapkan siapa jodoh kita: siapapun dia, dimanapun dia, bagaimanapun dia, kita gak akan dihisab karenanya. Tapi kita menjemputnya dengan cara apa: ta'aruf atau malah pacaran? inilah yang melibatkan pilihan kita.
Kita itu beraktivitas dalam 2 jenis perbuatan:
1. Perbuatan yang bisa kita kontrol dan yang muncul karena keinginan kita sendiri. Contohnya: kita bisa memilih mau minum khamr atau sirup, mau berbakti atau malah durhaka sama orang tua.
2. Perbuatan yang gak bisa kita kontrol dan yang bukan keinginan kita, mau-gak mau kita harus menerimanya. Contohnya: kita terlahir dengan warna kulit sawo matang, rambut ikal dan hidung pesek. Dan kita gak akan dihisab sebab hal ini, KECUALI kalau kita berbuat sesuatu untuk merubahnya, operasi pelastik misalnya
Penjelasan singkatnya, qadha adalah yang bukan ranah kita, yang semuanya datang dari Allah tanpa bisa manusia campur tangan.
Sedangkan qadar itu khasiat suatu benda dan setelahnya adalah pilihan manusia, bisa dibilang pilihan manusia ini ada karena adanya khasiat suatu benda, dan inilah yang akan dihisab. Contoh, pisau itu khasiatnya tajam, untuk memotong. Dari sini hadirlah pilihan manusia: apakah manusia ini mau menggunakan pisau untuk memotong buah atau tangan orang lain?
Eh tapi bukan berarti karena kita diberi pilihan itu artinya Allah gak tau mana yang akan kita pilih pada akhirnya ya dear... contohnya di pilihan “mau minum khamr atau sirup?”, let's say at the end kita memilih meminum sirup, Allah pasti sudah tau apa yang akan kita pilih
Dan ini semualah yang kita sebut TAKDIR, yaitu catatan (ilmu) Allah yang menyeluruh tentang segala sesuatu (kejadian yang telah, akan ataupun sedang terjadi; tentang alam semesta, benda-benda, manusia dan segala perbuatannya, makhluk hidup lain, dan masih banyak lagi yang gak bisa kita jangkau) yang telah Allah ketahui dan dituliskan di lawh al-mahfuzh
Kayaknya kita udah gak asing ya sama kalimat, misalnya aja kalau kita lagi ngedown atau lagi ragu sama cita-cita kita. Pasti se-enggaknya ada salah satu dari orang terdekat kita yang memotivasi kita pake kalimat yang satu ini
Tapi gimana dengan orang-orang yang udah pernah ngerasain pengalaman berusaha mati-matian tapi ternyata gagal juga? Gimana rasanya? Pedih pasti
Percaya diri itu bagus tapi jangan lupa bahwa gak melulu hasil yang kita harapkan bisa menjadi kenyataan. Jangan berlebihan, jangan terlalu merasa semua usaha yang kita lakukan pasti berhasil. Satu yang harus selalu kita ingat: kita menjalani prosesnya, Allah yang menentukan hasilnya. Betul memang Allah menilai segala proses yang kita lewati tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana hasilnya nanti
Tugas kita hanya memastikan bahwa setiap usaha yang kita lakukan harus sesuai dengan aturan-Nya, pastikan jangan melanggar syariat, ah ya! Tentu jangan lupa, KENCENGIN DOANYA!
Jika hasil tidak akan mengkhianati usaha: usaha kita yang seperti apa dulu? Apakah yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginan kita?
Kalo udah ngomongin ini secara gak langsung kita ngomongin konsep rezeki. Dan rezeki kita sudah pasti dan sudah tetap dan tertulis di lawh al-mahfuzh kan?
Kalau udah paham konsep qadha dan qadar itu emang bikin hidup tenang ya... kalau hasil yang kita dapetin gak sebanding dengan usaha yang sudah kita keluarin itu artinya Allah akan kasih kita rezeki dari jalan lain. Dan bagian paling pentingnya, nanti PASTI ada pelajaran berharga dari sana:)
Takdir-Nya gak akan memberatkan kita kalau seandainya kita bisa lebih meninggikan kehati-hatian kita, bisa lebih merendahkan keinginan, ambisi, nafsu kita akan dunia, dan menjadikan syariat sebagai filter setiap gerak-gerik perbuatan kita
Kalau ketiga hal ini bisa kita tempel selalu di setiap tujuan hidup kita, maka apa yang terjadi kemudian akan mudah kita terima. Sebab paham ketentuan-Nya selalu baik, sekalipun yang gak baik bagi kita tapi sebenarnya itulah yang terbaik bagi kita.
Takdir sial katanya...
Padahal semua ketetapn Allah adalah yang terbaik untuk kita para hamba-Nya
Jadi, jangan suka meng-kambing hitam-kan takdir ya, hati-hati!🙁🙁

Komentar
Posting Komentar