Bukan Sekadar Teori



Bulan Ramadan adalah bulan dimana kita banyak belajar darinya. Belajar lebih taat kepada Allah, belajar melewati batas-batas ketaatan kita. Mencoba untuk melalui apa yang sudah kita lakukan untuk mencoba jadi lebih baik lagi, lebih baik lagi. Dan salah satu yang paling penting kita pelajari dari bulan Ramadan ini adalah, kenapa banyak orang bisa lebih taat pada bulan Ramadan, lebih mudah dibandingkan dari bulan-bulan lainnya?

Dari sini kita bisa melihat bahwa didalam Islam, ketaatan kepada Allah Swt. senantiasa ditopang oleh 3 pilar ; ketakwaan individu, jama'ah yang menerapkan aturan Allah, negara yang menerapkan syariat Allah.

Kita tahu saat dihari-hari yang lain, merasa lalai dalam beribadah, enggan dalam beribadah, sebab terikut oleh komunitas nya. Ketika mereka melihat orang-orang yang tidak salat, menjadikan legitimasi  agar tidak salat juga. Atau ketika banyak orang yang melanggar perintah Allah, mereka akan terdorong melanggar perintah Allah.

Setiap individu, sekuat apa pun keimanannya, pilar pertamanya, tetaplah ada batas-batas yang tak bisa dilewati lagi. Akan ada masa dimana keimanan bisa teruji, tidak mampu bertahan, ketika terus-menerus diuji. Karena setiap orang punya batas keimanan.

Rasulullah saw. mengingatkan kepada kita bahwa hidup layaknya menumpang sebuah kapal, yang di atasnya ada jama'ah, pun di bawah juga ada jama'ah. Letak dari ketaatan totalitas, ada pada amar makruf nahi munkar. Apakah sering kita beramal ma'ruf? Pun nahi munkar?

Ketika kita melihat kesalahan, atau dosa-dosa yang dilakukan, maka kita bernahi munkar. Saat melihat orang-orang tidak melakukan kebaikan, maka amar makruf dijalankan. Tampak pada bulan Ramadan. Saat komunitas ini melaksanakan aturan-aturan Allah secara berjama'ah. Maka kebaikan-kebaikan akan lebih mudah dilakukan.

Tapi ada batas dalam ketaatan berjama'ah. Saat jama'ah ini sepakat melakukan dosa, akan jauh lebih hebat kejadiannya. Karena diperlukan pintu pilar ketiga, yakni negara yang menerapkan syariat Allah.

Sebab kita mendengar Ulama' memberikan pengetahuan kepada kita, kesultanan adalah penting sekali. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali, "Sesungguhnya dunia ibarat sebuah asas, dan kekuasaan sebagai penjaganya. Apa pun yang tidak ada asasnya, pasti akan runtuh. Dan apa pun yang tidak ada penjaganya, pasti akan hilang. "

Maka agama haruslah dikuatkan dengan kekuasaan, dan akan menjadi kekuasaan yang benar apabila berdasarkan agama.

Namun kita melihat sekeliling kita, apa yang terjadi? Insyaallah semua kita beriman, insyaallah kita melaksanakan puasa, salat. Bagaimana dengan jama'ah kita? Insyaallah tarawih masih salat.

Akan tetapi, kekuasaan yang harusnya menjaga agama, dan agama harusnya yang menjadi dasar berkuasa, tidaklah terjadi. Maka kita lihat pada masa kini banyak kekuasaan-kekuasaan yang mencontohkan hal yang tidak baik. Atau sebaliknya, agama-agama yang hanya sekadar menjadi teori, tapi tidak diterapkan.

Dan mudah-mudahan kita senantiasa bersemangat dalam Ramadan ini, meningkatkan pilar pertama kita, ketakwaan pribadi, dan bersama-sama membangun masyarakat yang islami. Dan kita bersama-sama agar syariat Allah tidak hanya menjadi pemutus halal dan haram dalam kehidupan pribadi. Atau dalam kehidupan berjama'ah. Melainkan dalam negara yang kita cintai ini.

Sahabat Fillah, semoga puasa kita menjadi barokah dan senantiasa dimudahkan. Dan selamat menunaikan ibadah puasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMI PENANTIAN LUKA #1

Edisi Ramadan_Bersama dalam Ketaatan