SEMI PENANTIAN LUKA #1


#SemiPenantianLuka_01

Gadis Keras itu Nabiila


"Nabiila, bisa tidak satu hari tak menyulut emosi?" Suara keras itu dari Ayah Nabiila. Pahlawan yang selama ini Nabiila banggakan, namun sekejap mata ia dibutakan lantaran kecemburuan pada sang Ibunda baru.

Satu bulan sejak saat itu Nabiila sudah menjejaki peraduannya di sekolah jenjang SMA nya, awal episode seorang Nabiila menjadi anak keras, onar dan.... Menakutkan. Saat peran keluarga sangat ia butuhkan, dan saat itu pula ia merasa terasingkan. Seolah mimpi yang dibuat menjadi sampah belaka yang baru ia sadari, kalau semua akan menjadi benang merah.

Bundanya pergi meninggalkan dirinya dan semua orang yang merasa kehilangan. Tapi, sifat Nabiila berbeda dengan 4 saudara lainnya. Ia amat sangat bisa merubah kejiwaan dirinya saat semua orang berhasil mengusiknya. Terlebih, sang Ayah yang ikut dengan kediaman istrinya semakin membuat Nabiila menduga duga persepsi sendiri. Juga kakak yang ia butuhkan, malah mejadikan mereka sibuk dengan kepentingan masing-masing tanpa tahu lemahnya seorang Nabiila tanpa pelukan kasih keluarganya.

"Dek, Abang nginap di luar kota selama beberapa waktu."

Atau,

"Dek, nanti beli sendiri ya kebutuhan nya, nih uang untuk keperluan kedepannya."
Atau,

"Dek, nanti kalau ada apa-apa, telpon saja."

Bukan. Bukan itu yang Nabiila inginkan. Ia hanya ingin waktu agar didengarkan semua orang. Namun, segera ia kuburkan semua itu, sebab penyakit hati terus merasuki dirinya.

Nabiila dan si Kembaran Anggun Fadhilah
Sekejap, orang akan banyak bertanya dengan penampilan Nabiila hijabers awutan dan Fadhilah si kalem yang menenangkan. Wajah saja tak ada miripnya, apalagi perlakuannya sangat bertolak belakang.

Dibaliknya, Nabiila kesal dengan seorang Fadhilah, ketika semua orang benar benar membandingkan dirinya dengan kembaran yang kata mereka sangat kontras. Percaya tidaknya, orang cuek pun punya perasaan, mereka akan melampiaskan sama hal nya dengan orang berperasaan pada umumnya. Hanya sikap yang cuek dan arogan membuatnya malas merubah diri.

"Nabiila, lihat Fadhilah yang begini---"

"Nabiila, kapan kamu berubah seperti Fadhilah?"

Atau,

"Nabiila si Keras kepala dan Fadhilah si penurut."

Semua orang tersayangnya membuat Nabiila makin mengurung dan menutup diri dari keramaian. Hingga Nabiila beranggapan,

"Belajar tanpa teman tak apa, adalah lebih baik daripada berteman tapi menyakitkan."

Semua perjuangan Nabiila tak lepas dari hanya mengeraskan hati sampai ia mulai dikenal dikalangan teman kelasnya sebab kejeniusannya dalam menangkap pelajaran. Sejak saat itu pula ia baru mengerti sejurus luas pemikiran banyak orang,

"Yang membuatmu banyak dikenal adalah tentang hasilmu yang banyak diuntungkan."

Hingga bel istirahat dibunyikan, Nabiila keluar kelas dan menggerakkan langkahnya menuju kantin Biru seorang diri. Selama ini, tak ada yang berani mendekatinya. Tapi seorang Aulia dengan perawakan 15 cm pendek dari Nabiila, membuat Aulia agak mendongak menatap mimik wajah Nabiila yang terbilang, menakutkan.

"Hai, assalamu'alaikum, Nabiila kan?" Tanya Aulia dengan bawaan senyum yang diabaikan Nabiila.

Nabiila menoleh sekilas ke arah sampingnya, menjawab salam dalam hati, "Sok peduli! Pengen sih bilang, tapi, kasihan." Katanya dalam hati.

Keduanya duduk saling diam sambil menunggu pesanan diantar.

Gadis hitam manis itu menoleh ke arah Nabiila dengan binar di wajahnya. Tapi tetap saja Nabiila yang disenyumi tak balik membalas. Kalau saja orang lain yang ada di dekat Nabiila, tentu saja kesal dengan tampilan arogan darinya. Butuh kesabaran ekstra meluluhkan orang dingin. Dan Aulia sudah banyak ahli dalam hal itu.
Di kantin, mereka mendengar bisikan kebanggaan dan iri dengan kepintaran diri nya.

"Aku Aulia, tapi biasa dipanggil Lily. Terserah deh manggil apa."

Nabiila diam, menyimak. Dalam hati, 'Ohh... Lily..'

Pesanan datang, Nabiila hanya pesan jus Jambu favorit dan bekal yang biasa Fadhilah siapkan tiap hari untuknya.

"Kamu jago ya bahasa dan hitungan matematika?" Menyeruput Jus Alpukat dan kembali menatap lawan bicara yang tetap menunduk, entah karena gengsi atau sejenisnya ia bungkam.

"Gak nyangka bisa dapet kedua ahli istimewa itu. Gak banyak juga yang bisa di dua bidang itu. Suka bertolak belakang."

Diamnya Nabiila hanya senyum dalam menunduk.

"Tapi, serius lho, aku tuh orangnya setia, apalagi ngadepin orang seperti kamu. Nabiila, si arogan kelas cueknya ampun, gila parah. Mungkin kalo orang yang gak sabar jadi aku, udah abis bonyok deh dirimu. Et, tapi tenang, semua itu gak aku banget kok.. hehe.."

"Jadi inget Umi sama Abi, mereka pasti kangen aku juga. Hehe"

Nabiila menoleh ke arah Aulia dengan wajah sendu. Ia menyimak dengan menatap Aulia. Sampai, satu kata membuat Aulia berbinar, dan kembali antusias menceritakan orang tuanya.

"Mereka sempat jadi relawan hampir 3 bulan lamanya. Awalnya, mereka seing berkabar denganku. Tapi menginjak bulan ketiga tak ada kabar apapun sampai kepolisian Indonesia menelpon bahwa jenazah kedua orang tua ku sudah di bandara. Waktu itu sok berat. Apalagi keadaan yang berlumuran darah membuatku menjadi awas pergi ke sana."

Sudut bibirnya terangkat membentuk simpul senyuman antara bahagia dan duka bersamaan.

"Tapi, sekarang aku tahu. Mereka tetap ada. Dalam jiwaku. Meski nyatanya tak ada tapi, sikap sikap mereka yang selalu menyemangati ku masih terpatri dalam benakku. Hingga kini, arti sabar ini darinya aku belajar bahwa, hidup tak melulu tentang yang indah saja. Tapi, kita perlu merasa diri kita terjun dalam suatu masalah agar kita mengerti kelas sabar itu untuk orang² istimewa."


********

📝📝📝 Nabiila Quote


"Keletihan kita sering disebabkan bukan oleh pekerjaan, tapi oleh kekhawatiran, frustasi, dan putus asa."

-Dale Carnegie

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Sekadar Teori

Edisi Ramadan_Bersama dalam Ketaatan