Life is Not Only Looking For The Best





Gagal Menerima

Setiap orang itu berbeda-beda. Begitulah nasehat yang saya dengar. Kalimat yang mampu buat aku tergerak, bahwa, memang setiap orang punya cara-cara sendiri mengartikan hidup.

Mulai dari seleranya, maunya, cara berpikir, cara menghadapi sesuatu, apalagi cara meresponnya. Semua punya ciri khas.

Jangankan perbedaan dengan teman sebaya, atau tetangga sebelah yang suka nyinyir. Sesama satu rumah pun, kita punya banyak sekali cara khas menyikapi sesuatu. 

Mulai dari kerja rumah, kerja di luar rumah, dan interaksi sesama. Semuanya, beda. Gak ada yang sama. Terkadang kita malah menjadi sangat egois ketika kita berhadapan dengan orang terdekat, betul tidak? 

Tapi, mengapa seperti menjadi kegagalan begini? Belum lagi aku membangun keluarga kecil nanti. Terdidik saja aku sulit menyempurnakan. Mendidik apalagi. Banyak sekali kegagalan. Berhari-hari merasa resah, kenapa sulit sekali sabar?😖

Padahal, aku punya Allah. Yang siap menampung keluh kesah ku, rasanya masih sama susah. 

Dan....

Life is not only looking for the best, rather to accept reality.

"Hidup ini bukan mencari yang terbaik, namun lebih kepada menerima kenyataan."

Setidaknya aku masih yakin akan ujian ini adalah masa pendewasaan diri. Kadang terlalu banyak menyalahkan orang lain membuat tertekan dengan ragam hidup sendiri. Oh, ayolah, kita sama-sama dewasa. Setidaknya kita punya prinsip sama untuk satu tujuan. Singkirkan egois kita, jalani bersama. Semuanya tentang belajar. Belajar menghargai, belajar dihargai, belajar dewasa, dan belajar mengatur waktu profesional.

Setiap musibah ada permata yang terselip, ia berharga, tapi hanya orang sabar yang mendapatkan.

"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhan di pagi dan senja hari dengan mengharapkan keridhaan-Nya." (QS. 18:28)

Namun, seringkali yang memahami agama ini lebih perlu untuk dipahami, sebab sudah ada pegangan ilmu, atau karena pengalaman mereka.

Yang tua harus ekstra lebih sabar, ekstra memahami yang lebih muda. Yang muda pun harus sabar mendengar pengalaman yang tua. Asal semuanya masih sesuai agama Allah, semua akan baik-baik saja.

Kalau ada rasa tak nyaman, itu lumrah. Untuk bisa tetap bersama kudu punya pengorbanan besar. Dan setiap usaha untuk bisa bersama itu berbuah pahala.

Setan sering sekali menjebak hal remeh begini, hingga menjadikan kebiasaan yang nyaris mendarah daging dalam kita. Kalau tidak bertengkar, katanya bukan komunikasi yang asli. Kalau disuruh-suruh katanya, bisanya cuma menyuruh. Gagal saya jadi kakak yang baik. Saya udah gagal jadi anak, ditambah gagal jadi kakak. Jangan sampai nanti, aku gagal jadi istri, menantu, dan Ibu. Jangan sampai! Semua hanya suka rela, berkorban satu sama lain, dan ikhlas. Kalau aku marah dan mendiamkan mereka, setan aakan tertawa bangga. So, kamu bisa! Aku pasti bisa! Jangan pantang menyerah!😍😍😍

Masih di dunia, mumpung kita masih bersama. Siapa tahu kita nanti berpisah dengan masing-masing keluarga. Akan lebih banyak lagi kisah harunya. Jangan sampai menyesal atas setiap nasehat yang disampaikan. 

Kita ini berkeluarga, harap-harap, kita masih bertemu nanti di surga-Nya. Kita muhasabah bersama yuk. Ajak diri ini untuk berbuat baik. 

Jangan selesaikan masalah dengan mengeluh, marah-marah. Selesaikan dengan hati dingin, jangan lupa sabar dan syukur, lalu sediakan senyum yang ceria.

Orang yang berjiwa memiliki dua hati, hati yang menangis dan lagi sabar.

~ aaisy rahadatul

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMI PENANTIAN LUKA #1

Bukan Sekadar Teori

Edisi Ramadan_Bersama dalam Ketaatan