GELAR ISTRI YANG LEBIH TINGGI, MASALAH KAH??



Teman, gimana sih pendapatmu tentang perempuan yang pendidikannya lebih tinggi dari suaminya? Misal perempuannya S3 gitu, sedang suaminya hanya lulusan SMA aja atau bahkan lulusan SD.?

Memang terkadang cinta tak mempersoalkan status sarjana atau tidak. Tapi banyak di antaranya menjadi sandungan tersendiri.

Untuk yang berpikiran panjang dan terbuka, jelas banget hal kayak begini sangat gak etis dalam benaknya. Toh, kecerdasan dan kemampuan berpikir itu tidak dilihat dari gelar sarjananya, bukan? Kalau iya sarjana itu adalah wadah orang-orang yang berintelektual, berwawasan tinggi, dan berpikir cemerlang, Indonesia pasti akan maju. Gak mungkin stag di tempat, utang negara terombang-ambing, dan masyarakat tentu tenang dong hidup dalam pandemi sekarang. Ya kan? 

Coba deh buka sedikit aja kita pahami takdir. Kalau pun seorang perempuan ada yang tidak menerima ketika calon suaminya tidak sama bergelar sarjana, itu beda persoalan lagi. Perempuan yang bermasalah. Kita sebagai muslim yang diajarkan berpikir sebelum melangkah, berpikir sebelum bertindak, dan berpikir sebelum mengesahkan jawaban. Karena, banyak diantara kita merasa tertandingi oleh persoalan yang remeh temeh.

Selama bisa saling memahami, belajar sama-sama membangun rumah tangga, dan menyelesaikan masalah di tengah kesulitan yang ada. Kalau dulu sewaktu sendiri masalah milik sendiri, kalau berdua beda lagi. Yaa masalah nya jadi masalah berdua.

Kalau masalah cibiran?

Itu udah lewat! Selama antara pasangan sama-sama meyakinkan satu sama lain saja. Semua akan berjalan dengan baik.

Mana ada sih hidup di tengah masyarakat tanpa lepas dari cibiran orang lain?

Ah, kalau saya mah dari kecil udah banyak jadi bahan cibiran orang. Sesekali saya gak terima, menangis, tapi semua orang terdekat selalu menguatkan. Saya yang kecil lah, saya yang gak pinter lah, saya yang gak kompeten lah. Ada saja. Gimana kalau cibiran itu dari keluarga sendiri? Meski gak terang-terangan mengungkapkan? Tapi, rasa minder tetap ada kan pasti?

So, status itu tak seharusnya jadi sumber masalah. Masalah itu cuma ada di pola pikir. Kalau gitu, kenapa saya gak cari aja di teman kampus sini? Emang di sana gak ada yang cocok? Dan sebagainya. 

Yaa, karena gak ada aja. Percuma kalau santri berpendidikan tinggi, tapi nilai berpendapat tak pernah menyatu. Bukan, mereka terlalu terobsesi sebuah kesalahan hingga menutup kebenaran yang walau sedikit saja.

Bila di awal punya komitmen dan tujuan soal cinta rumah tangganya, mau dibangun seperti apa, tujuan yang bagaimana, ya lebih baik pikirkan yang seperti itu.

Semua akan sama-sama belajar saat menikah. 
Tak ada yang lebih mengerti atau pintar karena orang tua yang mapan, berpendidikan tinggi, berpengalaman luas, semua itu sama. Sama-sama saling memahami, mendewasakan, belajar, dan terus memperbaiki setiap waktu, setiap kesalahan yang disadari. Apalagi saling mengingatkan, itu penting sekali untuk keutuhan bangunan rumah tangga.

Kalau ada yang salah ya saling memaafkan.
Perbaiki baik-baik kondisi yang ada. Siapa yang salah, siapa yang harus meminta maaf. Tapi, saya pernah belajar kalau kita pun tak ada salahnya meminta maaf meski tak salah. Sebab, 2 hal yang orang kadang sedikit banyak kurang mengerti arti maaf yang tidak karena salahnya, dan terimakasih bukan sekadar setelah diberi sesuatu.

Menurut para perempuan gimana?

Kalau belajar dari pengalaman orang tua dulu sewaktu awal menikah tahun 2000. Gaji pokok 100ribu untuk satu bulan. Ditambah untuk mudik tiap bulan masih cukup, meski masih menumpang rumah orang tua. Inginnya pindah biar mandiri, tapi ngga dibolehin. Apalah kata orang tua?

Gak pindah rumah, tapi masaknya beda. Waktu itu saya umur masih bayi, baru bisa makan nasi ulek. Keadaan bener-bener gak terpenuhi. Dari beras yang tak punya, lauk sederhana, dan biaya mudik tak ada. Akhirnya inisiatif mudik ke Jember 2 bulan sekali. Alhamdulillah cukup.

Bertambahnya usia, bertambahnya keluarga, semua rezeki satu per satu berdatangan. Gak ada masalah kalau keduanya bersepakat. Yang penting, visi dan misi yang jelas.

Kenapa sih saya udah punya CV, meskipun sering kali saya revisi, tapi ya tetap sama. Hanya lebih merinci, kalaupun kurang bisa dalam ajang ta'aruf, begitu. 

Mungkin saya agak berat, tapi saya belajar banyak. Apa pun keadaan nanti, saya harus bisa memahami. Bahwa rezeki itu dari Allah. Bukan dari siapa-siapa. Mau kita kerja kantoran, tapi kalau memang kurang, ya tetap kurang.

Sejujurnya, kesusahan hidup para orang rumah tangga sudah saya pelajari. Ada yang memang keluarga bergemilang harta, tapi tak jua bahagia sebab tak ada amanah dipangkuan mereka. Ada pula orang-orang yang berpendidikan tinggi menikah, tetapi ujungnya bercerai, anaklah yang jadi korban broken home. Ada juga yang sama-sama susah, cari makan susah, anak nambah, tapi siapa sangka rezeki datang dari arah tak disangka?

Wajar sih, manusia itu mengeluh akan takdir-Nya. Tapi, gak lantas buat kita melaknat takdir-Nya juga bukan?

Semuanya gak lepas dari doa, usaha, ikhtiar, tawakal kepada Allah SWT. Bersyukur atas apa-apa yang menjadi ketetapan Allah SWT. Bukannya itu sudah dalam lingkup lingkaran yang dikuasai Allah? Rezeki, Jodoh, Maut. Bukan?

Semoga Sholawat dan Salam tercurah limpahkan pada junjungan besar kita Nabi Muhammad Saw. hingga kini kita bisa memeluk Islam.

Tak terhingga, jazakumullah khoiron Katsir untuk orang-orang hebat seperti Umi & Abi. Kakek Nenek, Om Tante, dan para adik-adik ku semua.

Adik-adikku, mereka banyak mengesalkan tapi sekaligus buatku terharu atas sesuatu yang tidak kuduga juga. So, jangan sampai kita menyakiti orang tersayang hanya karena satu kesalahan yang diperbuat dan melupakan kebaikannya yang telah lalu.

Bijak bicara, bijak berwacana.

Kita muslim, udah ngaji intensif kan?

Yuk, perbarui kita, percayakan pada Allah SWT secara total. Ia yang tahu, apa pun takdir terbaik kita. 



💞
Untuk semua orang. Tulisan ini murni karena banyak kesalahan tafsir banyak orang. Termasuk saya mungkin, kadang, kalau pernah, mohon dimaafkan.

Ingin saya sharing untuk terdepannya. Murni juga karena saya ingin berbagi pengalaman dalam tulisan agar menjadi abdi meski saya tak banyak diketahui orang-orang. Sekadar berbagi.

☺️🙏🏻

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMI PENANTIAN LUKA #1

Bukan Sekadar Teori

Edisi Ramadan_Bersama dalam Ketaatan