/ Belajar Tidak Ada Ruginya /
/ Belajar Tidak Ada Ruginya /
Oleh: M. Taufik N.T
#Nafsiyah
#MuslimahNewsID -- Ketika sudah belajar beberapa lama namun tidak juga kunjung mengerti dan mencapai hasil seperti apa yang diinginkan, sebagian orang merasa bahwa upayanya tidaklah berguna, sia-sia belajar kata mereka, lalu mereka berhenti.
Padahal, masalah mau paham atau tidak, disamping itu ada usaha manusia, namun Allah juga yang menentukan mudah tidaknya seseorang memahami pelajaran. Lebih dari itu, sekalipun tidak ada satu katapun yang dipahami/ dihafal dalam majelis ilmu, hadir dan belajar tetaplah mendapatkan kemuliaan.
===
Imam Abu Laits (w. 373 H) dalam Tanbîh al-Ghâfilîn h.439 menyatakan:
مَنِ انْتَهَى إِلَى الْعَالِمِ، وَجَلَسَ مَعَهُ، وَلَا يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَحْفَظَ الْعِلْمَ، فَلَهُ سَبْعُ كَرَامَاتٍ
Siapa yang berhenti di sisi orang ‘alim, dan duduk dalam majelisnya, dan dia tidak mampu untuk menghafal ilmu tersebut, maka baginya (tetap) memperoleh tujuh kemuliaan:
أَوَّلُهَا: يَنَالُ فَضْلَ الْمُتَعَلِّمِي نَ.
Pertama, dia memperoleh keutamaan orang-orang yang belajar,
وَالثَّانِي: مَا دَامَ جَالِسًا عِنْدَهُ كَانَ مَحْبُوسًا عَنِ الذُّنُوبِ وَالْخَطَأِ.
Kedua, selama dia duduk disisinya, dia terhalang dari berbuat dosa dan kesalahan,
وَالثَّالِثُ: إِذَا خَرَجَ مِنْ مَنْزِلِهِ تَنْزِلُ عَلَيْهِ الرَّحْمَةُ.
Ketiga, jika dia keluar dari rumahnya, maka turun rahmat kepadanya,
وَالرَّابِعُ: إِذَا جَلَسَ عِنْدَهُ، فَتَنْزِلُ عَلَيْهِمُ الرَّحْمَةُ، فَتُصِيبُهُ بِبَرَكَتِهِمْ.
Keempat, jika dia duduk di majelisnya, lalu turun rahmat kepada orang-orang yang hadir di majelis tersebut, maka dia akan ikut dapat bagiannya karena berkah mereka,
وَالْخَامِسُ: مَا دَامَ مُسْتَمِعًا تُكْتَبُ لَهُ الْحَسَنَةُ.
Kelima, selama dia mendengarkan maka dicatat baginya kebaikan,
وَالسَّادِسُ: تَحُفُّ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا رِضًا وَهُوَ فِيهِمْ.
Keenam, para malaikat menaungi mereka (yang hadir di majelis ilmu) dengan keridaan, sementara dia ada diantara mereka yang hadir.
وَالسَّابِعُ: كُلُّ قَدَمٍ يَرْفَعُهُ، وَيَضَعُهُ يَكُونُ كَفَّارَةً لِلذُّنُوبِ، وَرَفْعًا لِلدَّرَجَاتِ لَهُ، وَزِيَادَةً فِي الْحَسَنَاتِ
Ketujuh, setiap langkah yang dilakukannya akan menjadi penebus dosa dan pengangkat derajat serta penambah kebaikan.”
===
Jika tidak paham saja mendapat tujuh kemuliaan, tentunya jika paham, hafal, mengamalkan dan mendakwahkannya akan lebih banyak lagi kebaikan yang diperoleh. Hanya saja, kemuliaan itu akan didapat tentunya jika dibarengi dengan niat yang benar, tidak dicampur dengan niat berbuat dosa, semisal mau ‘mencari’ sandal yang lebih baik, mencari pacar, dan hal-hal maksiyat lainnya. Juga tidak dilandasi semangat untuk mencari kedudukan di mata manusia.
Karena itulah, kita baca bagaimana para ‘ulama terdahulu tidak bosan-bosannya menempuh jarak yang jauh untuk mendatangi majelis ‘ilmu.
ورحل جابر بن عبد الله مسيرة شهر إلى عبد الله بن أنيس في حديث واحد
“Jabir Ibn Abdillah melakukan perjalanan selama satu bulan untuk menemui Abdullah Ibn Unais, demi mendapatkan satu hadis. ” [al-Bukhari, Shahih al-Bukhari (Dar Tuq al-Najah, 1422), 1/26]
Bahkan Nabi Musa a.s, yang sangat banyak ‘ilmunya sekalipun, masih saja melakukan perjalanan yang melelahkan dalam rangka ingin belajar dari Khidhr.
===
Saat ini, di era gadget yang terkoneksi internet, tidak sedikit orang yang merasa sudah cukup menuntut ilmu secara on-line, lewat grup whatsapp, facebook, telegram, youtube dan sebagainya, tidak keliru sebenarnya karena tulisan hukumnya sama dengan lisan. Mendengar ucapan seorang guru dengan membaca tulisannya—dari sisi tersampaikannya pengetahuan—tid aklah jauh berbeda.
Begitu juga hadir langsung di majelisnya dibandingkan dengan menyaksikan lewat youtube juga tidak jauh berbeda dari sisi tersampaikannya pengetahuan, namun banyak kemuliaan—yang sebagian orang menyebutnya dengan berkah—sebagaim ana yang disebutkan di atas, tidak akan diperoleh jika tidak hadir langsung ke majelis ilmu. Menuntut ilmu secara on-line bagus, tidak perlu ditinggalkan, hanya saja perlu dilengkapi dengan hadir langsung di majelis-majelis ilmu. Allâhu A’lam.
===
Sumber: WordPress Ust. Taufik N.T
Oleh: M. Taufik N.T
#Nafsiyah
#MuslimahNewsID -- Ketika sudah belajar beberapa lama namun tidak juga kunjung mengerti dan mencapai hasil seperti apa yang diinginkan, sebagian orang merasa bahwa upayanya tidaklah berguna, sia-sia belajar kata mereka, lalu mereka berhenti.
Padahal, masalah mau paham atau tidak, disamping itu ada usaha manusia, namun Allah juga yang menentukan mudah tidaknya seseorang memahami pelajaran. Lebih dari itu, sekalipun tidak ada satu katapun yang dipahami/
===
Imam Abu Laits (w. 373 H) dalam Tanbîh al-Ghâfilîn h.439 menyatakan:
مَنِ انْتَهَى إِلَى الْعَالِمِ، وَجَلَسَ مَعَهُ، وَلَا يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَحْفَظَ الْعِلْمَ، فَلَهُ سَبْعُ كَرَامَاتٍ
Siapa yang berhenti di sisi orang ‘alim, dan duduk dalam majelisnya, dan dia tidak mampu untuk menghafal ilmu tersebut, maka baginya (tetap) memperoleh tujuh kemuliaan:
أَوَّلُهَا: يَنَالُ فَضْلَ الْمُتَعَلِّمِي
Pertama, dia memperoleh keutamaan orang-orang yang belajar,
وَالثَّانِي: مَا دَامَ جَالِسًا عِنْدَهُ كَانَ مَحْبُوسًا عَنِ الذُّنُوبِ وَالْخَطَأِ.
Kedua, selama dia duduk disisinya, dia terhalang dari berbuat dosa dan kesalahan,
وَالثَّالِثُ: إِذَا خَرَجَ مِنْ مَنْزِلِهِ تَنْزِلُ عَلَيْهِ الرَّحْمَةُ.
Ketiga, jika dia keluar dari rumahnya, maka turun rahmat kepadanya,
وَالرَّابِعُ: إِذَا جَلَسَ عِنْدَهُ، فَتَنْزِلُ عَلَيْهِمُ الرَّحْمَةُ، فَتُصِيبُهُ بِبَرَكَتِهِمْ.
Keempat, jika dia duduk di majelisnya, lalu turun rahmat kepada orang-orang yang hadir di majelis tersebut, maka dia akan ikut dapat bagiannya karena berkah mereka,
وَالْخَامِسُ: مَا دَامَ مُسْتَمِعًا تُكْتَبُ لَهُ الْحَسَنَةُ.
Kelima, selama dia mendengarkan maka dicatat baginya kebaikan,
وَالسَّادِسُ: تَحُفُّ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا
Keenam, para malaikat menaungi mereka (yang hadir di majelis ilmu) dengan keridaan, sementara dia ada diantara mereka yang hadir.
وَالسَّابِعُ: كُلُّ قَدَمٍ يَرْفَعُهُ، وَيَضَعُهُ يَكُونُ كَفَّارَةً لِلذُّنُوبِ، وَرَفْعًا لِلدَّرَجَاتِ لَهُ، وَزِيَادَةً فِي الْحَسَنَاتِ
Ketujuh, setiap langkah yang dilakukannya akan menjadi penebus dosa dan pengangkat derajat serta penambah kebaikan.”
===
Jika tidak paham saja mendapat tujuh kemuliaan, tentunya jika paham, hafal, mengamalkan dan mendakwahkannya
Karena itulah, kita baca bagaimana para ‘ulama terdahulu tidak bosan-bosannya menempuh jarak yang jauh untuk mendatangi majelis ‘ilmu.
ورحل جابر بن عبد الله مسيرة شهر إلى عبد الله بن أنيس في حديث واحد
“Jabir Ibn Abdillah melakukan perjalanan selama satu bulan untuk menemui Abdullah Ibn Unais, demi mendapatkan satu hadis. ” [al-Bukhari, Shahih al-Bukhari (Dar Tuq al-Najah, 1422), 1/26]
Bahkan Nabi Musa a.s, yang sangat banyak ‘ilmunya sekalipun, masih saja melakukan perjalanan yang melelahkan dalam rangka ingin belajar dari Khidhr.
===
Saat ini, di era gadget yang terkoneksi internet, tidak sedikit orang yang merasa sudah cukup menuntut ilmu secara on-line, lewat grup whatsapp, facebook, telegram, youtube dan sebagainya, tidak keliru sebenarnya karena tulisan hukumnya sama dengan lisan. Mendengar ucapan seorang guru dengan membaca tulisannya—dari
Begitu juga hadir langsung di majelisnya dibandingkan dengan menyaksikan lewat youtube juga tidak jauh berbeda dari sisi tersampaikannya
===
Sumber: WordPress Ust. Taufik N.T

Komentar
Posting Komentar