TERKIKIS RASA PENDIDIKAN YANG KETINGGALAN ZAMAN

Oleh : Rahadatul Aisy


 


Ada orang yang baru merasa kebutuhan pokok tak lagi mudah. Tapi agaknya ada lebih banyak orang lagi yang merasa bahwa tugas memimpin sangat disepelekan. Mereka pemimpin, yang hanya sekadar memimpin. Memang semua kita harus berupaya untuk meneruskan pendidikan kuliah, meski banyak kesulitan.

Namun rasanya, ada yang tidak sadar-sadar pada keputusan yang dilontarkan, dan pada kesalahan sistem pendidikan yang kita tinggali bertahun-tahun ini. Hal ini kelihatan sekali pada kemasan aturan pendidikan yang ada, kemudian tidak kita sadari keadaan dunia, dan tak kalah pentingnya adalah perasaan rakyat rakyat yang harus berjuang di tengah pandemi untuk melanjutkan hidup tanpa khawatir terhadap serangan virus COVID-19.


Kemasan pendidikan rusak yang tidak kita sadari selama ini. Tidakkah kita berkaca pada sejarah kegemilangan Islam terdahulu tentang Pendidikan dalam Masa Khilafah. Yang mana perhatiannya sangat besar pada aspek pendidikan. Tak heran jika Khalifah membangun berbagai lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Tujuannya adalah tak lain untuk meningkatkan pemahaman umat terhadap agama, sains, dan teknologi. Semuanya gratis kita dapat. Tak pandang dari kalangan kecil, konglomerat, bahkan pengemis sekali pun.


Tercatat beberapa lembaga seperti Nidzamiyah (1067 - 1407 M) di Baghdad, Al-Azhar (975 M - Sekarang) di Mesir, Al-Qarawiyyun (859 M - Sekarang) di Fez, Maroko, dan Sankore (989 M - Sekarang) di Timbukh, Mali, Afrika. Dengan kurikulum terbaik dan termaju . Pun berhasil melahirk tokoh pemikir dan ilmuan muslim yang disegani. Seperti Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al-Farabi, Al-khawarizmi, dan Al-Firdausi.


Robert L. Gulick Jr. dalam bukunya 'Muhammad', The Educator menyatakan, "Muhammad merupakan seorang pendidik yang membimbing manusia menuju kemerdekaan dan kebahagiaan yang lebih besar. Tidak dapat dibantah lagi bahwa Muhammad sungguh telah melahirkan ketertiban dan stabilitas yang mendorong perkembangan Islam. Suatu revolusi sejati yang memiliki tempo yang tidak bertanding dan gairah yang menantang. Hanya konsep pendidikan paling dangkallah yang berani menolak keabsahan meletakkan Muhammad anatar pendidik-pendidik besar sepanjang masa, karena--dari sudut pandang pragmatis--seseorang yang mengangkat perilaku manusia adalah seorang pangeran diantara pendidik.


Ketika Anda tidak menyadarinya besok pagi, Anda harus belajar ulang sejarah pendidikan terbaik dalam Islam, dan kerusakan sistem pendidikan yang kita jalani sekarang lebih detail. Barulah setelah keras belajar, Anda akan tahu arti sistem pendidikan yang paling benar hanyalah sistem pendidikan dalam Islam.


Pendidikan yang menyesatkan turut menambah keresahan banyak orang tua, kita untuk melanjutkan perguruan tinggi atau tidak. Kenyataan menunjukkan, walaupun kita kuliah di tempat se-modern apa pun bertahun-tahun, kalau dasar sistemnya yang salah, pendidikan tidak akan pernah sempurna kemajuannya. Kemudian, perhatikan anak-anak muda zaman kini yang mengenyam pendidikan sekarang, di masa pandemi. Keresahan sebab ekonomi mulai merosot, pendidikan yang sangat mahal, dan terus bekerja keras di tengah pandemi Corona? Lagi pula, jika tidak ada yang bergerak untuk mengadu, tidak ada penolakan sistem, hanya menunggu, lalu membiarkan kita terus dibodohi oleh sistem pendidikan kapitalis yang dibuat asas manfaat semata? Perhatikan pula cara-cara pemimpin dalam menyampaikan keputusan yang berubah-ubah, plin-plan. Bagaimana pun nyaman dan bagusnya, tidak bisa kita dapat pendidikan terbaik, hingga terus-menerus membiarkan masalah semakin berbobot dengan mendiamkan diri kita untuk acuh dan tak mau berpikir. Solusinya adalah hanya dengan sistem Khilafah.


Kerusakan pendidikan itu, sebab agama yang dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dengan pengaturan kehidupan. Justru itulah yang membuat agama tak lagi berperan sebagai motivasi. Kepribadian yang tampak pada pelajar pada umumnya, yang konon maksudnya membuat pelajar mengemban ilmu pengetahuan, tidaklah tepat. Jika tak ada kepribadian Islami, apa gunanya hanya sematan prestasi beroleh piagam dan piala? Pola hidup masyarakat yang bahaya, kita, terutama kaum pelajar dengan sifat individual materialistik nya. Di samping itu, pola hidup sederhana dan produktif cenderung pada pola hidup mewah dan konsumtif, yang jika tidak disikat dengan perubahan akan semakin membengkak, yang menyebabkan struktur keluarga semula extended family cenderung nuclear family, bisa menuju  single parent family. Hubungan keluarga yang awalnya erat malah longgar dan merapuh. Nilai-nilai agama dan tradisional masyarakat cenderung berubah menjadi masyarakat modern bercorak sekuler dan permissive society. Maraknya perkawinan yang diragukan dan memilih hidup bersama tanpa menikah. Karena ambisi karier materi yang tiada habisnya.


Agaknya jelas bagi kita bahwa pendidikan dalam bentuk sekarang ini sudah sangat tertinggal zaman. Ada banyak sekali perubahan buruk yang sebenarnya sudah terjadi sejak dahulu kala step by step perubahan terus berubah. Justru, semakin dirubah, semakin kita tertinggal zaman. Mana ada yang tidak mau pendidikan gratis seperti zaman khilafah terdahulu, yang tidak memiliki keresahan dalam mengemban ilmu ataupun tuntutan ekonomi lainnya. Sistemnya juga rasanya lebih banyak tidak nyamannya dari segi manapun. Dan mengenai sistem pendidikan yang benar, kalau memang mau nyaman, mengapa tidak dipikirkan dan dicari solusi dalam Islam saja. Selain nyaman, terjamin, juga dapat menelan ilmu dengan guru-guru besar terbaik seperti keberhasilan dulunya? Dengan sendirinya 'sistem pendidikan' seperti dibubuhi macam vitamin untuk membuat kita tahu arti sebenarnya menuntut ilmu yang dikuasai manusia dalam rangka mengenal Allah swt. sebagai Al Khaliq, menyaksikan kehadirannya dalam berbagai fenomena yang diamati, mengagungkan-Nya.


Sebab, ilmu perlu dikembangkan dalam menciptakan manusia yang hanya takut kepada Allah swt. hingga setiap dimensi kebenaran dapat ditegakkan pada siapapun tanpa pandang bulu.  Ilmu yang kita pelajari berusaha untuk menemukan keteraturan sistem, hubungan kausalitas, dan tujuan alam semesta. Membuat ilmu berkembang untuk mengambil manfaat dalam rangka ibadah kepada Allah swt,  teknologi yang diciptakan tak ditujukan dalam rangka menimbulkan kerusakan di muka bumi atau pada manusia sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMI PENANTIAN LUKA #1

Bukan Sekadar Teori

Edisi Ramadan_Bersama dalam Ketaatan