KELUAR PONDOK, KELUAR DAKWAH?!






KELUAR PONDOK, KELUAR DAKWAH?!

Baidewei, kebanyakan dari para santri (umumnya) setelah lulusan atau keluar dari zona pesantren. Dakwahnya makin longgar. Bukan asumsi atau fitnah belaka. Tapi, sudah banyak sekali terbuka dan memantau segala sudut pandang yang berbeda-beda.

Untuk itu, teman-teman alumni pesantren IBS Al-Amri khusus Akhwat mengadakan kajian ringan dan santai. Dengan begini, kami para alumni bisa produktif dalam berdakwah. Atau paling tidak, mengingat masa-masa dakwah di pesantren dan setelah dari sana. Tentu sangat berbeda porsinya. Teman-temannya juga sudah beda. Tapi, bukan berarti perbedaan itu yang kita ikuti.

Nah, di sini, gimana sih agar tetap enjoy berdakwah, lepas dari pesantren?

Harapannya, bukan menggurui dan segala macam. Tapi, sedikit banyak berbagi pengalaman sebagai alumni senior yang lebih lama keluar dari zona pesantren.

Pengantar_
Setiap dari kita, pastilah punya pengalaman jika berkaitan selama masa di pondok Al Amri. Sesuatu yang membuat kita teringat akan suatu momen di dalamnya, rasanya, nano-nano.

๐Ÿ‘‡๐Ÿป๐Ÿ‘‡๐Ÿป๐Ÿ‘‡๐Ÿป๐Ÿ‘‡๐Ÿป๐Ÿ‘‡๐Ÿป

*1. Keluar dari Zona Nyaman*

Berbicara soal zona nyaman, kita telah melalui banyak hal untuk bisa berada di zona ternyaman kita sendiri, terbiasa hidup dilingkungan pondok pesantren membuat kita lambat laun akan mengikuti pola yang diterapkan disana.

Di pondok kita sadar bahwa segala sesuatu yang baik memang harus dipaksa, tujuannya agar kita *biasa* mengikuti pola yang pondok terapkan, sehingga lambat laun sesuatu yang kita anggap sebagai paksaan  akhirnya jadi *terbiasa*,  bahkan bisa menjadi hal yang *luar biasa* ketika kita sudah paham seberapa bermanfaatnya setiap apa yang pondok ajarkan kepada kita untuk kebaikan dunia dan akhirat kita nantinya, percayalah. Contoh kecilnya saat ada aturan  shalat lima waktu berjamaah dimesjid, banyak hal terjadi memang, ada yang masih sering melanggar, ada pula yang taat aturan karena takut dihukum sama Ustadz/ah :D namun sadarkah kita bahwa dengan berjalannya waktu disertai dengan proses berpikir, kita akhirnya menyadari bahwa shalat lima waktu adalah sebuah kewajiban, dengan adanya aturan pondok yang mendidik kita semua jadi *“terbiasa”* shalat jamaah dimesjid, bahkan shalat sudah menjadi kebutuhan, yang saya kira hingga kini alumni _AL AMRI_ juga masih merasakan kenikmatanya. :))

Oke kembali ketopik, bagaimana jika sudah saatnya kita harus keluar dari zona nyaman?

Mungkin banyak pengalaman teman-teman yang dulu saat masih mondok ingin segera lulus dan segera keluar dari tempat yang sering diistilahkan penjara suci :D seolah tidak sabar untuk segera menghirup udara segar, padahal di pondok juga banyak kok udara segar, hehe becanda. Yang mungkin kalo dulu kita ditanya lulus mau kemana, hampir 85% jawaban kita sangat berbeda dari fakta kita yang sekarang, iya tidak? Mau tidak mau akan banyak dari kita yang diam-diam mengiyakan dalam hati.

Bisa kita katakan bahwa kita lulus tanpa persiapan, apakah benar?

Kita perlu flashback lagi sosok seperti apa sih kita dipondok dulu? ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š 

Berdasarkan pengalaman saya pribadi, di pondok saya menemui banyak sekali karakter orang yang berbeda-beda, dimulai dari yang pendiam sampai yang kalau ketawa bisa bikin heboh satu asrama itu juga ada _(gak usah ditanyakan siapa orangnya)_ :D, hal ini juga berlaku dalam hal penerimaan dan pengamalan setiap ilmu yang kita dapat di pondok, dari level alim (taat aturan pondok sesuai dengan hukum syara’) sampai yang masih sulit mengamalkan ibadah wajib juga faktanya masih banyak kita temui di pondok. Dari hal ini saya penganut yang mempercayai, bahwa semua orang itu berproses, ada yang proses berubahnya cepat namun juga ada yang prosesnya lama bahkan terkesan alot untuk dibentuk. Namun bukan itu titik poinnya, saya yakin semua alumni lulusan atau yang pernah menempa ilmu di Al Amri adalah orang-orang yang hebat pada bidangnya masing-masing, dan juga tentunya taat dengan Aturan-Nya, dimana kita semua pasti memiliki pengalaman dan upaya yang berbeda-beda untuk bisa mencapai titik yang kita pijak saat ini.
Kembali kepertanyaan tentang “Apakah kita lulus dari pondok tanpa persiapan?”

Jawabannya bisa iya, bisa juga tidak. Ukuran seberapa siap kita lulus dan keluar dari pondok sebenarnya tergantung tujuan kita. Ya, tujuan akan kemana kita setelah lulus menjadi titik mula persiapan apa yang akan kita lakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Karena seperti yang kita tahu, bahwa dunia pondok dan diluar itu berbeda, sangat berbeda.

Saya jadi teringat sebuah nasehat dari seorang Ustadz di Al Amri, beliau tergolong pengajar baru pada masa itu, beliau kebetulan mengajar fisika di sekolah. Beliau pernah berkata “Siklus hidup di pondok dan diluar itu berbeda, kalian di pondok biasa melakukan ritual ibadah yang kompleks, mengkaji islam, berdakwah, yang semua itu berstandartkan syariat islam, didukung dengan lingkungan dan penduduk pondok yang juga melakukan hal yang sama, sevisi misi istilahnya. Namun diluar sana, kalian ibaratkan seorang diri, berdiri dengan kedua kaki sendiri, dan harus mandiri. Seorang santri yang keluar pondok ibarat pohon yang ditiup angin kencang, ketika akar (yang diumpamakan iman) untuk menyanggah tidak kuat, maka pohon itu akan tumbang, namun ketika kita membawa serta semua kebiasaan dan ide islam yang kita dapat dipondok maka pohon itu akan tetap kokoh dan teguh berdiri”. Saya tidak menyangka nasehat ini akan saya sampaikan keteman-teman pada hari ini :’) 

Oke melanjutkan yang diatas, jadi persiapan semacam apa yang perlu kita lakukan disaat kita dipaksa untuk keluar dari zona nyaman kita?

Yap, teman-teman. Banyak sekali kisah dari mereka yang begitu keluar dari pondok terkaget dan terheran-heran melihat dunia luar. Mungkin yang kaget ini tergolong orang yang keluar pondok tanpa persiapan, hayo siapa yang merasa ngaku :D

Mantapkan tujuan, bukan hanya tentang tujuan akan kemana kita setelah keluar dari pondok, tapi yang harus kita mantapkan adalah akan kemana kita setelah kehidupan ini? Jika selama kita mengabdi dipondok ilmu itu benar-bear kita terima, saya yakin teman-teman sudah menggenggam erat tujuan hidupnya dengan baik.

*2. Pencarian Jati Diri untuk Meneguhkan Mimpi*

Setelah kita benar-benar paham tujuan kita setelah keluar pondok mau ngapain, saya yakin teman-teman tidak akan bingung saat menapakkan kaki diluaran sana, saya yakin teman-teman akan tetap berpijak pada jalan kebenaran, sebagaimana kita diajarkan di pondok bahwa, islam dan dakwah itu tidak terpisahkan. Dimana ada ilmu islam yang dikaji, disana ada dakwah yang juga harus dibagi setiap hari. Kita sangat tahu eksistensi dakwah harusnya menjadi poros hidup kita, dakwah sudah seharusnya terpatri di palung hati terdalam setiap alumni Al Amri, dan saya yakin demikian.

Teman-teman tahu tidak bahwa banyak sekali orang diluar sana yang menyesal selama hidupnya tidak pernah belajar di pondok dengan baik, maka itu sudah seharusnya kita bangga menjadi salah satu orang yang beruntung itu :)) jadi apa-apa yang sudah kita dapat di pondok harapannya tetap bisa kita amalkan sempai saat ini, semua _habits_ yang baik jangan sampai kita tinggalkan dengan alasan sibuk kuliah atau bekerja, jangan ya teman-teman :))

Sebagai seorang muslim, Sudah seharusnya menjadikan islam sebagai _qaidah_ dan _qiyadah fikriyah_ kita, senantiasa memberikan energi positif, serta melaksanakan hukum syara’ dengan maksimal, periayahan terhadap amanah dakwah, serta mengaplikasikan nay dalam seluruh biding kehidupan.

Karena setiap diri seorang Muslim memiliki kewajiban atas dakwah, setiap pribadi seorang Muslim yang telah baligh dan berakal, baik laki-laki dan perempuan memiliki kewajiban untuk mengemban tugas Malia yaitu dakwah. 

Dakwah adalah tugas mulia dalam pandangan Allah Subhanahu Wata’ala, sehingga dengan dakwah tersebut Allah menyematkan Khairu Ummah (Sebaik-baiknya umat) kepada umat Rasulullah sebagaimana dalam *Surah Ali Imran ayat 110*.

ูƒُู†ْุชُู…ْ ุฎَูŠْุฑَ ุฃُู…َّุฉٍ ุฃُุฎْุฑِุฌَุชْ ู„ِู„ู†َّุงุณِ ุชَุฃْู…ُุฑُูˆู†َ ุจِุงู„ْู…َุนْุฑُูˆูِ ูˆَุชَู†ْู‡َูˆْู†َ ุนَู†ِ ุงู„ْู…ُู†ْูƒَุฑِ ูˆَุชُุคْู…ِู†ُูˆู†َ ุจِุงู„ู„َّู‡ِ ۗ ูˆَู„َูˆْ ุขู…َู†َ ุฃَู‡ْู„ُ ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ ู„َูƒَุงู†َ ุฎَูŠْุฑًุง ู„َู‡ُู…ْ ۚ ู…ِู†ْู‡ُู…ُ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ُูˆู†َ ูˆَุฃَูƒْุซَุฑُู‡ُู…ُ ุงู„ْูَุงุณِู‚ُูˆู†َ

_Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik._ (TQS Ali Imran:110)

Untuk itulah sudah seharusnya eksistensi dakwah tetap menjadi pondasi utama dalam hidup kita, banyak sekali kisah seseorang yang meninggalkan dakwah karena urusan dunia, namun pada akhirnya mereka tidak benar-bear merasa bahagia dengan captain yang dia miliki, semua terasa kosong, hal ini tersebab Karena kita meninggalkan fitrah kita sebagai manusia. Kita meninggalkan hal yang jelas-jelas Allah tetapkan atas diri setiap Muslim.

Jati diri seorang Muslim itu adalah mengemban amanat umat dengan berdakwah, karena sejatinya dakwah tidak pernah menghalangi terwujudnya mimpi-mimpi kita, kita hanya perlu sebuah pembiasaan dan management waktu untuk mengatur kembali hidup kita, dimana skala prioritas kita turn on kan, halal haram sebagai skala perbuatan kita aktifkan, serta habits yang sudah baik selama di pondok juga perlu kita upgrade kembali, InsyaAllah semua akan membiasa dan menjadi sesuatu yang luar biasa pads waktunya. Semangat. ๐Ÿ’ช๐Ÿป

Maka, setelah lulus dari pondok, kita akan bertemu dengan fase selanjutnya. Yang mana, fasenya lebih berat dari ketika kita masih di pondok. Dan kita sebelum keluar dari pondok, haruslah punya persiapan yang matang jika tidak mau hilang akal atau tujuan hidup.

*3. Tetap Eksis dengan Hukum Syara*

Nah, ini inti daripada perjalanan bahasan kita. Setiap orang itu pada dasarnya memiliki tantangan hidup yang berbeda-beda, dalam dunia dakwah pun juga sama. Jangan beranggapan badai tidak pernah singgah ke mereka yang kita anggap sudah kuat imannya. Celah terjerumus dalam lembah kelalaian dan futur panjang masih sering kali mengampiri. 

Ketika kita telah berkecimpung di jalan dakwah, kita akan dihadapkan dengan berbagai macam problematika hidup yang lebih kompleks, sebagaimana kita hidup ditengah negeri yang carut marut sistem dan aturan didalamnya, maka kita sebagai sosok pengemban dakwah yang tahu betul dunia semacam yang tengah kita hadapi mau tidak mau mesti memilah mana hal yang boleh kita lakukan, dan mana yang jelas islam larang untuk dilakukan. Ini hal yang cukup berat jika kita tidak menjalankan sepenuhnya aturan Allah dalam setiap sendi kehidupan kita.

Kita harus ingat, bahwa dakwah itu tujuannya untuk ber *amar ma’ruf nahi munkar*. Namun masih banyak diantara para pengemban dakwah yang gemar ber amar ma’ruf namun enggan bernahi munkar dengan alasan khawatir menyinggung perasaan orang yang sedang kita dakwahi tersebut :))

Hal semacam ini terjadi karena ada perasaan tidak pede, ada perasaan enggan atau bisa juga tersebab oleh perasaan ragu akan ide dakwah yang sedang kita emban sekarang. Banyak faktor yang bisa melatar belakangi alasan hal semacam ini terjadi, bisa karena faktor internal atau eksternal. Faktor internal berarti masalahnya ada pada diri kita, dimana lemahnya kondisi nuansa keimanan kita bisa menjadi penyebabnya, maka obat dari masalah ini adalah memperbaiki hubungan kita dengan Allah, ini kunci manjurnya. Sedangkan untuk faktor ekstenalnya bisa disebabkan karena lingkungan kita, ataupun apa-apa yang tengah kita jadikan hobi saat ini. maka itu teman-teman, kembali lagi skala priorotas kita gencarkan. Faktor eksternal ini karena melibatkan pihak luar yang berpotensi membuat kita terbawa arus maka sudah seharusnya membentengi diri adalah pilihan yang utama.

Hindari segala hal yang berpotensi membuat kita mengesampingkan dakwah kita, apalagi sampai malu berdakwah karena tidak sesuai dengan ide dilingkungan hidup yang kita gemari. NO.

Justru seharusnya, seorang pengemban dakwah tetap mampu speak up tentang solusi islam sebagai penyelesaian terhadap problematika hidup ditengah-tengah masyarakat, sekalipun ide yang disampaikan kerap kali tertolak, kita harus tetap teguh dalam menyampaikan kebenaran.

Jadi istilah tetap eksis dengan hukum syara ini memiliki banyak makna yang tersirat, kembalikan ke potensi diri. Untuk membuat dakwah kita mudah diterima sebenarnya hanya perlu pengembangan potensi  diri kita itu dimana,  ya sudah masukkan ide dakwah disetiap ada kesempatan, InsyaAllah cara semacam ini selain lebih tepat sasaran, kita juga lebih tau medannya :))

Akhir banget nih ๐Ÿ˜…

*4. Tips & Trik Istiqomah*

Hmm.. sebenarnya jika berbicara tentang tips & trik saya yakin teman-teman lebih tau medan dan tantangan yang dihadapi dalam setiap perjalanan dakwahnya masing-masing. Hanya saja mungkin disini yang perlu sama-sama kita bangun adalah semangat menuntut ilmu dan dakwahnya :))

Selain itu jangan pernah meninggalkan jama’ah, karena jama’ah adalah wadah kita dalam berdakwah, dengan membarengi dengan menguatkan ruhiyah, rajin menuntut ilmu untuk menambah tsaqofah islam, disiplin, selalu pembangun ketajaman berpikir disetiap kondisi, dan yang terpenting semua tetap berada dalam koridor syariat islam. Tabarakallahu...

Teman-teman kalau di luar area pondok nanti tidak perlu juga menjauhi teman-teman yang mungkin tidak bisa mengerti tujuan dan pemahaman kita. Yaa kitagak bisa maksa juga. Tapi, kita bisa mengantarkan mereka agar seperti kita. Menyeret nya dalam kebaikan, menasehati. Atau paling tidak kita bisa menyesuaikan dengan tindakan kita agar menjadi contoh yang baik. Tidak sekadar penasehat, tapi juga pada praktiknya.

Ketika kita takut takut menyakiti perasaan sebenarnya tak perlu. Sebab, kita punya landasan berpikir dan bertindak sesuai dengan hukum Syara'. Mungkin mereka akan sakit hati dengan perkataan kita, tapi mereka lebih sakit lagi kelak ketika tidak kita beritahu.

Pun ketika teknik dakwah dalam pesantren dan di luar yang beda banget. Ya, kita kudu banyak belajar menyesuaikan. Tak mungkin kita menyamakan dakwah kita kepada remaja dengan ibu-ibu umumnya.

Apalagi saat ini eranya teknologi. Apapun kita bisa mengakses, termasuk dalam berdakwah.

Kebiasaan di pondok juga biasa diatur dari Sononya. Diarahkan segala kegiatan, tindakan, dan tatanan berpikir yang sesuai pula. Dengan perbandingan baik dan buruknya.

Kembali lagi, sewaktu di pondok berbagai watak kita temui. Mulai dari yang bar bar atau kalem dll. Yang ketika di luar pondok itu bisa berkebalikan atau bisa juga tetap. Sesuai kesadaran individu nya. Seberapa kita menguasai diri kita dengan senantiasa mengendalikan hal-hal yang berpotensi men-downkan kita atau malah meningkatkan kekuatan kita dalam berdakwah. 

Karena, setiap orang punya bekal yang sama. Arahan yang sama. Tinggal individu sendiri saja mengembangkan. Kalau mau stag, dia yang selalu puas dengan apa yang dimiliki. Dan orang yang ingin maju ya, orang yang selalu ingin tahu. Berbenah diri.

Banyak berbenah diri dan berteman dengan orang-orang yang bisa mengajak kita pada kebaikan. Minimal kita bisa menasehati orang lain tanpa harus ikut arusnya. Pelan-pelan tapi pasti. Insyaallah, Allah akan mudahkan. Minta saja. Nanti Allah kasih sesuai dengan kadar perorangan.

MasyaAllah... Begitulah kisah sharing alumni pesantren IBS Al-Amri khusus Akhwat๐Ÿคฉ

Jazakillah khoir pemateri dan moderator sebagai penggerak saran ini. Semoga teman-teman bisa mengambil di dalamnya๐Ÿคฒ Sehat selalu ya mbak-mbak.. adek-adek... Semoga Allah berikan Rahmat serta hidayah pada kita semua di sini. Dan semoga Allah memberkati atas adanya siraman ukhuwah dan ikatan ukhuwah yang kembali merekah dengan adanya manfaat sharing.

#MengikatMakna


20.04.2020
Mengikat Makna

Sharing Alumni
Fauziyah Syam







Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMI PENANTIAN LUKA #1

Bukan Sekadar Teori

Edisi Ramadan_Bersama dalam Ketaatan