APA KABAR MINAT BACA DI INDONESIA??
APA KABAR MINAT BACA DI INDONESIA?
Apakabar nya ya Negeriku Indonesia dengan minat bacanya? Padahal manfaat memcaba buku sangatlah penting. Terlebih untuk para remaja yang akan mengedepankan, yang akan memimpin dimasa depan. Kalau saja calon pemimpin tak ada minat baca, apa yang akan dikembangkan di Indonesia kelak ketika masanya menjadi pemimpin? Begitu miris sekali melihat gaulnya remaja kini.
Contohnya seperti Bapak Ir. Soekarno yang sejak kecil beliau itu pecinta buku lho. Ketika banyak teman teman seusinya berMain main. Justru Ir. Soekarno menyibukkan diri dengan buku bukunya. Katanya, dengan beliau menghabiskan waktu dengan buku, beliau bisa bertemu dengan orang orang hebat dengan berbagai pemikiran yang keren keren.
Kalau kenal Bung Hatta yang hobinya membaca dan koleksi buku sejak 17 tahun itu banyak dari bahasa asing seperti Inggris, Belanda, Perancis Jerman, dan masih banyak lagi. Yang beliau pelajarin dalam empat bahasa tersebut. Wow!
Kalau yang Pak Bj. Habibie sang tokoh terkenal dan sukses dalam bidang ilmu pengetahuan dan penerbangan itu sudah menjadi kutu buku sejak kecil. Berbagai buku dibaca beliau, mulai dari ilmu teknik dan ilmu alam. Yang beliau rangkul jadi satu menjadikan beliau meneliti dari sekian teori itu menjadi ahli di bidang Thermodinamika, konstruksi, dan Aerodinamika.
Wu.. wu...
Minat baca Indonesia
Banyak banget yang gak tahu tentang minat baca di Indonesia kecuali pegiat literasi dan perpustakaan. Kalau di bulan September dijuluki dengan bulan gemar membaca, apalagi di tanggal 14 September itu sebagai hari peringatan kunjungan perpustakaan nasional.
Yang awal mulanya dikunjungi oleh mantan Presiden Suharto tanggal 14 September 1995 yang beliau juga merencanakan bulan gemar membaca pada bulan itu. Tujuan tak lain agar meningkatkan minat baca di Indonesia yang masih rendah.
Pada tahun 2009, Organization for Economic and Development (OECD) menempatkan minat baca di Indonesia terendah dari 52 Negara Asia Timur. Sementara 2011 lalu United Natuons Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) merilis data minat baca di Indonesia 0,001. Artinya, jika ada 1000 orang penduduk, yang memiliki minat baca hanya 1 orang. Miris ya sob?
Banyak penelitian luar Negri pula menemukan remaja Indonesia yang sangat minim dengan minat bacanya. Lebih banyak memilih digital, atau media sosial.
Studi yang dipimpin oleh Professor Psikologi di San Diego State University, Jean M. Twenge melihat data yang diambil dari Monitoring The Future. Para peneliti itu menganalisis survei dari 1976 hingga 2016 yang mencakup pengguna media digital meningkat secara substansial beberapa tahun ini.
Menurut Twenge, pengguna Internet meningkat dengan pengguna para pemuda. Akhirnya, tingkat minat baca semakin menurun drastis. "Waktu di Media digital telah membuang waktu untuk membaca atau menonton televisi" Kata Twenge. Apalagi dengan munculnya ebook dan perangkat digital lainnya, para peneliti menemukan minat baca turun drastis. Para pemuda sekarang lebih asyik membaca buku dan majalah elektronik.
Merupakan studi sebuah studi yang sedang berlangsung mensurvei sampel perwakilan nasional sekitar seperdelapan dari 50 ribu siswa kelas 10 dan kelas 12 setiap tahun. Anak kelas 12 menghabiskan waktu 2 jam perhari untuk menggunakan internet selama waktu luang mereka. "60 persen dari siswa kelas 12 mengatakan mereka membaca buku atau majalah hampir setiap hari pada akhir 1970-an, sementara 16 persen yang membaca setiap hari pada tahun 2016 hingga saat ini," tutupnya.
Power of Reading
Banyak sekali hal positif yang dari yang kamu baca. Meski sebagian orang akan memaksa dirinya membaca untuk getol. Hanya sekedar mengingatkan manfaat yang baik dari aktivitas membaca buku.
Pertama, Menambah wawasan.
Udah jelas banget pasti kan kalo membaca ini membuka cakrawala sangat luas. Yang bisa mengetahui berbagai informasi di segala penjuru dunia hanya dengan duduk saja
Kedua, anti gagap saat bicara.
Dengan banyaknya kosa kata yang dipelajari melatih kita pula untuk berbicara di rengat masyarakat umum. Karena ketika adanya gagap itu kurangnya kosa kata.
Ketiga, membaca mengasah empati.
Dikutip dari guardian, Psikolog David Comer Kidd dan Emanuele Castano dari New Schoof for Sosial Research di New York menemukan penggemar bacaan fiksi memiliki tingkat minat lebih banyak. Mereka secara tak langsung terlatih untuk jauh lebih mudah memahami orang orang di sekitar mereka
Keempat, membaca dapat meredakan stres.
Dilansir dari BoldSky kebiasaan membaca berimbas positif terhadap kesehatan mental lhoo. Tanpa banyak disadari kalau membaca ini peredam stres dan mereka yang membaca cenderung lebih menekan emosi dan puas dengan kehidupan, bahkan lebih sabar dan tak mudah gegabah.
Kelima, membaca dapat melatih konsentrasi.
Kebiasaan membaca ini membuat otak terangsang untuk berfikir, fokus, mudah mengelola informasi dengan cepat. Dengan membaca akan mudah menghadapi kesulitan-kesulitan untuk mempertahankan fokus untuk jangka waktu yang lama.
Keenam, menghindari dari Alzheimer.
Salah satu resikonya adalah menghilangkan gagal fokus bahkan hilang ingatan. Sebab otak sudah terlatih bekerja dengan membaca buku.
Ketujuh, meningkatkan kualitas tidur.
Meningkatkan kualitas tidur lebih lelap lho. Menurut penelitian dari Mindlab Internasional di University of Sussex, walaupun hanya membaca 10 menit sebelum tidur, hal ini nyata tetap berimbas signifikan pada otak.
Semoga menjadi pemicu semangat untuk terus giat membaca.
Ibadah
Bener gak sih membaca buku itu bernilai ibadah? Bukannya setiap aktivitas kita diharuskan bernilai ibadah? Tentunya dengan membaca buku kita nyambi menggali ilmu dengan amalan ibadah.
Maka dari itu buku sebagai sumber informasi jalan kita untuk mendapatkan banyak ilmu.
"Allah mengangkat orang orang yang beriman dan orang orang yang memiliki ilmu Engan beberapa derajat yang tinggi" (QS. Al Mujaadilah :11)
Ketika perang badai usai, ada 70 orang kafir Quraisy Makkah menjadi tawanan, masing masing diminta mengejar 10 orang anak anak dewasa Madinah dalam membaca dan menulis sebagai syarat pembebasan mereka. Akhirnya 700 orang terbebas dari buta huruf. Lalu, mereka masing-masing diminta jadi guru bagi orang lain yang belum mampu membaca dan menulis. Begitulah cara Rosulullah memberantas orang orang yang buta huruf.
Pada kejayaan Islam, peran Negara dalam mendukung budaya tulis menulis sangat banyak dan ERUS menerus. Mulai dari ilmu ilmu pengetahuan, yang memudahkan akses kepada sumber pembaca, hingga fasilitas yang memanjakan para pecinta buku.
Duh, gak bisa bayangin lagi deh gimana hebatnya penulis zaman dulu dan Negara yang senantiasa membuka peluang banyak untuk pecinta buku.
Untuk mendongkrak produktifit para penulis buku, Khalifah Harun al-Mahmun dan Khalifah Harun Rasyid mengganjar penulis dan penerjemah buku dengan emas seberat buku karyanya lho. Wah, MasyaAllah 😍. Nggak heran lagi dong tentunya ilmu pengetahuan dan teknologi ini sangat berkembang pesat di zaman Kekhilafahan Bani Abbasiyah.
Dannn untuk memudahkan akses masyarakat terhadap sumber ilmu pengetahuan, perpustakaan Islam bertebaran dimana mana. Perpustakaan Baitul Hikmah di Baghdad, didirikan oleh Khilafah Harun Rasyid yang merupakan perpustakaan terbesar pertama dalam Islam. Perpustakaan Khalifah Dinasti Fatimiyah di Kairo, merupakan perpustakaan umum yang paling terkenal. Perpustakaan yang berisi mushaf dan buku buku yang berharga sangatttttt. Yang jumlahnya mencapai 2.000.000 eksemplar!😋😋
Du.. du... Kita pecinta buku
Sebagai remaja muslim wajib banget kita tuh membaca buku setiap hari. Terutama yang masih berada di tingkat sekolah. Ddan jangan sampai waktu yang mat berharga ini dilewati gitu aja tanpa ada manfaatnya. Percuma kan kita jauh jauh sekolah tapi gak suka baca? Penuhilah memori kita dengan informasi bermanfaat dari buku yang kita baca. Sebab dengan itu kita bisa menjadi pribadi bermanfaat lebih produktif untuk membangkitkan Kejayaan kaum muslimin.

Komentar
Posting Komentar