Cerita Sambung #1



*Senja & Biru*


Langkah baru yang mulai kupatuhi. Bersama tertutupnya cerita kita. Cerita yang pernah menggerakkan kita. Memang benar, kita bisa merencanakan, namun Allah yang menentukan. Tak ada apa apa kita menolak takdirNya. Menolak atau tidaknya kita, sesuatu akan sama terjadi. Sebab skenario yang tak lagi kudapat semauku, tapi sesyukurku, harusnya. Hingga kulupa dengan perjanjian bisu yang bertatapkan rasa memburu. Akhirnya jatuh tak merekatkan.

Hati seolah ditikam batu, menatap lesu bayangan suamiku kelak yang tau bahwa aku masih mencintai lelaki lain.
Sah! Kisah ini berakhir, tentang senja dan kenangan biru yang tertulis dalam buku lusuh itu. Malangnya nasib buku ini tak akan lagi utuh, sebab ada hati yang harus kujaga nanti. Bukan dia.

"Sudah. Yang ikhlas. Ini amanah ayah yang baik, jangan kau tolak. Dia orang baik dek" Kata Bang Diki menepuk nepuk bahuku pelan. Ia kembali menyadarkan ku sesuatu yang tak pasti itu.

Ah, mana? Katanya biru akan menjemputku? Aku pernah mendengar perkataan Ali Ra, intinya rasa terpahit ialah ketika kita berharap pada manusia.
Aku berusaha terampil biasa biasa saja di depan wajah semua orang. Tapi tampaknya Rara menyadari sesuatu dan membisikkan kata kata.

"Apapun yang kamu rasakan sekarang. Mau tak mau, kamu harus sabar dan ikhlas menerima amanah ayahmu ini. Ini baik bagimu Dek. Ikhlaskan saja dia. Dia tak layak kau tunggu, sedang di sini ada orang yang sudah ikhlas kau miliki. Lantas, mengapa kau masih memikirkan hal lain? Ingat ya, dosa!"

Aku mengangguk sambil berjalan sesuai arahan Rara yang membimbingku bertemu suami. Ah--suami. Percaya apa aku punya suami setegar Aa Purnama? Harusnya aku bersyukur dengan ini Allah tau gerakan hati hambaNya yang terbaik dan buruknya.

Aku mencium tangannya untuk pertama kali, sebab sejak awal pertemuan aku selalu menghalangi ia menyentuhku. Padahal sejak kecil pun kita bersama. Tak lain ayah hanya menginginkan ku menjaga keiffahan dan keizzahan ku sebagai wanita.

Seketika selesai, dan semua orang membubarkan diri. Tinggal aku dan ia suamiku yang tertinggal dalam satu ruangan. Jujur saja, ia amat membuatku gugup, apalagi yang baru pertama kali dekat dengan lelaki selain Bang Diki, kembaran ku. Aku tak ingin mendekat, apalagi memberikan secercah harapan.

Jika kupikir menjadi dia, aku pasti sangat sakit dan marah ketika seorang istri mengacuhkan dirinya. Apalagi di malam pertama kami. Ah, sudah! Dia tak boleh berharap! Dan sebagian kejiwaanku membrontak kata kata yang diucapkan. Sebagian lagi tetep Keukeh.
Setelah aku mandi, giliran dia yang mandi. Tapi, aku tak menyapa atau sekedar merapikan kebutuhan untuk mandinya. Hanya melengos menatap kejengahan dirinya yang membuatku terjebak sorot gilanya. Benar benar gila! Dia suamiku! Akh, aku tak terima!

Pintu kamar mandi terbuka, tercium aroma harumnya bau shampo yang dipakai. Dengan berganti pakaian baju santai, sedang aku yang masih lengkap gamis dan jilbab kecuali kaos kaki.

Kusibukkan diri di sofa kamar. Lalu, kulihat ia berjalan keluar kamar, entah berurusan apa aku tak mau tau. Kesal dan sedikit iba melihat dirinya yang kuacuhkan.
Tak kudengar suara pintu berdecit, tapi ia sudah di sebelahku saja. Sontak aku terkejut dan sedikit memberi jarak darinya. Tapi ia mendekat, membawa sepiring nasi untuk kami makan malam bersama. Katanya, "Biar aku yang memulai kemersahan ini sayang"

Sekelebat hatiku berdebar, suara pilu itu seakan merasuki jiwa, setruman itu menyetir ke seluruh sendi tubuhku. Ketika tangannya menyodorkan sesendok nasi dan lauknya di udara, tak sadar aku membuka mulut menerima suapan itu.

Jujur, lapar itu mendominasi memang. Apalagi ditemani ia dengan warna pelanginya. Aku masih menatap dengan sorot dingin dan acuh. Tak bisa aku berpura pura suka seketika dengannya bukan?

Bukan menjauhiku ia malah semakin mendekat. Piring yang tinggal sisa beberapa suap itu di letakkan ya begitu saja di atas meja. Kemudian ia turun dari kursi, kakinya ditekuk, juga lutut yang bersentuhan dengan lantai. Aku benar benar tak tega, kali ini dan--benar benar tak tega. Ya Allah, apa yang sudah kulakukan? Ia ladang pahalaku tapi aku malah bersikap menyebalkan.

"Kamu sayang aku?" Spontan aku menanyakan hal tersebut padanya.

Wajahnya mengerut, dan ia bingung dengan pertanyaan ku. Lalu kuulangi, "Kamu? Sayang? Sama? Aku?" Tanyaku menekan satu per satu katanya.

Ia mengangguk angguk.

"Biarkan aku meluluhkan hatimu istriku. Sampai waktunya kau akan ikhlas menerimaku apa adanya. Selalu menunggu kesiapan mu. Kapanpun yang kau pinta. Aku menunggu"

Kupu kupu seluruh tubuh berdenyut nyeri, merasakan aroma sedap darinya. Dia kembali mengelus ngelus tanganku dengan lembut. Hatinya, ada serupa dengan kapas tapi kata kata itu menyentilku--

"Kau harus tau apapun konsekuensi menerima pernikahan ini. Dan kamu juga punya perjanjian dihadapan Allah sebab kamu sudah menerimaku, lantas perbuatanmu demikian?"

"Tak apa. Aku menunggu. Tak usah terburu buru. Yang terpenting belajar ikhlas dulu"



+++

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMI PENANTIAN LUKA #1

Bukan Sekadar Teori

Edisi Ramadan_Bersama dalam Ketaatan