Yasminah #1
BAB 1
HABIIBAH
Sudah 4 tahun lamanya ia menderita di tempat kumuh, yang ia tak tau dimana. Pria pria bringas yang selalu menghabiskan untuk melayani mereka.
Di tempat tidur beralaskan kapuk, Habibah melahirkan anak keempat dan kelima. Di kelahirannya yang ke 3 ini. Selama itu pula ia tak pernah melihat sosok anak anak yang selama ini sudah ia lahirkan. Entah dibawakan kemana anak habiibah itu. Menjadi guna guna oleh pria bringas.
"Ergh!" Erangnya menahan sakit selepas melahirkan anak kelimanya dengan bantuan pria pria gadungan dengan menekan dan mendorong perutnya sampai melahirkan.
"Akhirnya bayi ini akan selamat sampai di tangan bangsawan!" Teriak wanita menor itu ketika melihat bayi kembar itu menangis digeletakkannya begitu tanpa perasaan.
Sedang Habiibah masih menahan rasa sakit itu meracau tak jelas dengan menahan kuat sakitnya. Mendengar bayi bayinya menangis kencang tanpa ada satupun yang menenangkangkan. Ingin ia mendekap mereka, menyalurkan rasa cinta dan kasih pada mereka. Tapi apalah daya, semua senjata disegala arah sudah mengarah padanya.
Kemudian, riuh membuncah rumah kumuh itu. Digendongnya Habiibah menuju ruangan rahasia dengan masih membiarkan kedua bayi itu menangis, Ari ari nya yang merah.
"Kejar!" Teriak salah satu polisi kepada pasukannya setelah mendapati kelompok sindikat hidung belang yang kabur Mambawa Habiibah.
Bayi kembar yang tengah menangis itu mengusik perasaan polisi. Dibalutkannya dengan kain, mendekapnya dalam kehangatan. Bayi itu tenang mulai merasa kenyamanan.
Polisi polisi yang tak berhasil mengejar pelaku, memutuskan kembali ke markas besar dan menyelidiki identitas korbannya.
+++++++
"Habiibah Hanuun. Usia 19 tahun dan semenjak 16 tahun permulaan aksi kegelapan ini. Berasal dari Indonesia" Pak Dinar membaca identitas warga Indonesia yang menjadi WNI ilegal. Ia tak mempercayakan juga dengan wajah Habiibah uang China dan kebulean ini memiliki asli keturunan Indonesia.
Seperti tidak wajar foto tersebut. Dan anehnya juga, ia pernah melihat wajah yang ada dalam foto tersebut. Karena citra Indonesia yang sudah buruk dipandangan Pemerintah Malaysia.
"Sindikat ini akan menjadikan kita sasaran empuk perdagangan manusia. Dan imigran gelap selalu ditimpuk di Indonesia"
"Maka dari itu aku meminta bantuan Anda" Terang Pak Damar pada point' intinya.
Ketika mendapat undangan dari Kedubes Malaysia, Pak Dinar sudah menduga akan mendapat tugas yang sebelumnya tak pernah ia fikirkan.
"Bantuan apa?" Tanya Pak Dinar dengan jengah. Ia tak ingin membahas terlalu rumit.
"Anakmu punya Rumah Binaan Yatim Piatu?"
"Kenapa dengan Rumah Binaan di sana?"
Pak Dinar yang melihat kedua anak buah Pak Damar membawa dua bayi yang menurutnya kembar.
"Jadi, saya ingin menitipkan hak asuh di Rumah Binaan Yatim Piatu pemilik anak Pak Dinar" Jelas Pak Damar.
Dalam hati Pak Dinar tersenyum kecut mendengar permintaan Kedubes Malaysia atas kasus Habiibah hingga membuatnya menjadi tahanan. Ia tak mau dengan sampai membuat keluarganya terkena bahaya. Karena para sindikat itu akan tetap mencari keberadaan jejak bayi Habiibah sampai terselubung. Ia berpikiran, untuk dibunuh saja kedua bayi ini agar tak menjejakkan permasalahan.
Namun, Pak Dinar mengiyakan permintaan Pak Damar dengan syarat memberi perlindungan atas semua ini pada polisi serta pem-back-up an dirinya nanti tanpa kasus. Apalagi dengan identitas dan pemalsuan ilegal ini ia bisa bisa saja terperangkap.
"Baik. Kami akan memperpanjang masa jabatan Anda juga"
Senangnya bukan main Pak Dinar ketika mendengat penuturan Pak Damar bahwa dirinya akan diperpanjangan menjadi DPRD nantinya. Itulah impian yang sejak lama. Setelahnya, barulah ia berani membawa kedua bayi itu untuk diasuhkan pada Rumah Binaan Yatim Piatu milik anaknya itu. Ia merasa aman karena mendapat perlindungan polisi serta kawan kawannya.
Sampailah satu tahun terlewat tanpa masalah. Hari itu, kejadian ketika pernikahan sederhana Barra' dengan istrinya digelar. Satu persoalan membuncahkan ketengan hatinya. Ia merasa gelisah karena kasus pembakaran Rumah Binaan Yatim Piatu nya yang terbakar. Dan terpaksa ia turun tangan untuk menangani persoalan itu. Menurutnya, ini sudah keterlaluan. Pekerjaan ayahnya yang selalu bikin kacau masalah serta emosi yang membuncah.
Apalagi kalau bukan tentang kasus persoalan Hanuun Yasminah & Hamzah Abdullah. Anak asuh setahun lalu yang dititipkan tanpa identitas yang lengkap dan jelas. Asal usul yang tak merangkup banyak alasan logis.
Selama ini ia belum bergerak atas tindakan ayah selama ini. Menjadi DPRD di daerahnya, yang sudah berpuluh puluh kali jika tempat partai seperti itu banyak merugikan rakyat sendiri, apalagi dirinya sekarang yang menjadi sasaran empuknya.
Disebabkan kepanikannya atas anak anak di sana yang untung kata pengasuh di sana semuanya baik baik saja tanpa terkecuali. Ia merasa lemah jika anak anak mereka tak dapat fasilitas terbaik. Akhirnya, ia pergi ke rumah ayah bertujuan untuk melabrak dengan aksinya.
"Ada apa ini sebenarnya? Apa yang terjadi dengan Hanuun dan Hamzah? Kedua anak tersebut sudah membuat ketenangan kamu panik. Ayah berbulan bulan sudha seperti ini? Jawab dengan jujur!" Ungkapnya kesal. Benar benar pincuk kekesalan. Untung saja, Barra' sudah punya beberapa rumah untuk hunian orang orang yang biasa disewakan. Dipakainya sementara untuk mengganti rumah binaan yang belum selesai.
"Aku tak tau! Kenapa menanyakan kepadaku?" Kilahnya dengan alasan lain.
"Ayah selalu seperti ini! Sudah berapa kali belajar berbohong itu dosa! Ingat itu yah! Apalagi dengan keadaan ayah yang masih dalam lingkup DPRD yang mana banyak tak terkendali. Semuanya serba hoax. Keadilan serta jaminan. Mana? Katanya mereka akan melindungi kita? Rumah sudah hangus, apalagi sebentar lagi persoalannya? Jangan hanya mengandalkan harga diri ayah. Aku juga punya harga diri. Kalau boleh memilih, aku lebih memilih membuang anak anak itu. Tapi aku masih tau diri, mereka tak pernah salah. Karena yang salah adalah karena polisi tak gencar menemukan dan hanyutkan dalam kasus pencarian ini. Ah, kapitalis sekali!"
Ayahnya masih diam. Ia benar benar tak sadar siapa anak dewasa di depannya ini. Ia kehabisan akal untuk membujuk atau berkilah dengan macam alasan lagi. Sebab Barra' sudah tau seluk beluk tentang kasus ini sebenarnya.
"Kami semua menjadi tak tenang! Ayah membahayakan kami semua orang orang di sini. Tak sadarkah masih?"
Masih dengan kediamannya.
"Hati ayah udah ketutup! Bertahun tahun sampai aku beranjak dewasa ayah tetap seperti ini. Kasihan bunda yah..." Katanya menurunkan nada suara yang terlalu keras.
"Iya. Ayah mengerti. Tapi, percayalah. Semua ini sudah diatur olehNya. Datang atau tidaknya, kita sudah mendapat cobaan ini. Kau harus ingat itu"
"Astaghfirullah. Iya ayah, maaf. Aku terlalu bersikeras" tapi, para polisi tak ada gerakan sama sekali mengincar kasus ini. Perlindungan? Perlindungan yang bagaimana menurut mereka? Harusnya mereka menjaga dan memperketat penjagaannya di area rumah ini.
Barra' meyakinkan diri. Bahwa semuanya akan baik baik saja. Ia mengusulkan untuk mempublikasikan tentang kematian karena kebakaran yang disengaja oleh orang tertentu. Dibuatkannya lah kuburan yang kosong dan diberi nama kedua bayi tersebut.
'Ya Allah... Maafkanlah jika hamba berbohong' Ucapnya lirih. Berharap dengan cara ini. Tak ada lagi masalah berlanjut. Meski ia mengerti pasti, sesuatu tak bisa ia hindari ketika itu berbuahkan takdir Allah.
+++
Barra' kembali mengantar Ayla ke tempat kos annya. Karena dirinya yang masih terikat studi S2 untuk menuntaskan. Terpaksalah ia harus mengalah sebentar berpisah dengan sang istri setelah beberapa hari menikah.
Di rumah, ia tinggal bersama dengan anak asuh yang diadopsi mulai saat ini. Dengan penjagaan yang ketat harus ia lakukan sebagai awas para sindikat berkeliaran. Ia tak memberikan celah sedikitpun untuk merusak orang di dalamnya.

Komentar
Posting Komentar