Cerpen
Masa kecil penuh duka yang kualami bertahun tahun lamanya. Hidup tanpa kasih sayang orang tua lengkap dengan keadaan keluarga yang pas pasan. Kakak perempuan yang notabenenya hanya mengajar guru honorer plus les tetangga. Aku pun yang tak punya kemampuan, tak bisa apa apa dengan keadaan sekarang apalagi. Bak model tak jelas. Sudah saatnya aku harus bangkit tapi, derita itu semakin memupuk tak tertahankan. Cerita bukan hanya sekedar cerita yang usang. Kini kisah ini nyata adanya. Berjuang kisah indah menatap luka masa huru hara.
.
Kali ini aku ingin bercerita tentang masaku yang kelam. Jika sekarang aku tak mengenalnya, maka tak selamanya pun aku akan tau apa kepentinganku melanjutkan hidup. Tak terasa sudah 4 tahun lamanya hidup ku amat terawat. Kata terimakasih saja tak bisa mengungkapkan jelasnya kebahagiaan yang bermula. Ia penolong yang sangat membantu. Terlebih kisah ini menghayati. Siapapun kamu, apapun keadaanmu, jangan merasa dirimu amat kecil tapi? Besarkan yang kecil tersebut dengan harapan dan impian yang besar. Yang bisa menggapai semua impian tanpa pandang orang orang sekitar. Kamu hebat! Iya kamu! Mari, sedikit saya kisahkan hal duka ini. Masih menganga. Bahkan sampai detik ini.
.
.
.
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
.
.
.
Gadis kecil itu kembali merengek meminta sesuap nasi dari tangan sang bunda. Tapi ditepisnya oleh sang ayah. Kasar! Sangat kasar! Bahkan tak elok ditampakkan di depan manapun. Gadis kecil itu menangis, tergugu menatap nanar sosok ayahnya yang juga menampar pipi bunda. Kala itu, gadis tersebut hanya menangis sekuatnya. Tak ada tetangga yang mendengar urakan mereka karena rumah mereka yang amat tertutup dari penghunian warna sekitar. Wajar saja.
.
Kali ini surat itu tergeletak di atas meja digebrakkannya pula sampai dentuman kuat mengejutkan sang gadis kecil. Ia meringkuk dan kembali merangkak pada pangkuan sang bunda. Hidupnya penuh misteri. Ketika itu pun sang bunda tak dinaya melepas pelukan sang anak. Ia mengurungkan di dalam kamarnya. Masih umur 4 tahun. Dirinya terlalu tabu untuk hal seperti itu. Menatap miris sang bunda dan kembali menangis. Sampai akhirnya tertidur dan terbangun di atas tempat tidur.
.
Melihat sang kakak di samping tempat tidur menemaninya sepanjang tidur. Gadis terlalu polos untuk mengerti hal demikian. Sang kakak pun dengan wajah yang sembab dan memerah menatap duka penuh pada sang adik. Ia sedikit merubah raut wajah kesedihan dengan senyuman yang dibuatnya.
.
"Adek gak papa?" Tanyanya khawatir. Gadis itu masih terdiam mencerna kegusaran yang dipikirkan.
.
"Gak papa" katanya berusaha setenang mungkin.
.
"Nanti tidur sama kakak yah?"
.
"Gak mau, sama bunda.." Rengeknya pada kakaknya. Sang kakak menggeleng lesu. Susah mengungkapkan isi hatinya dengan gamblang.
.
"Bunda lagi banyak kerjaan dek"
.
"Pokoknya mau sama bunda" Elaknya tak ingin telak.
.
"Yaudah sini kakak gendong" Rayunya kemudian mengangkat sang adik dalam gendongan. Ia hanya ingin membuat sang adik tenang. Meski dirinya sendiri sekarang merasakan kegusaran teramat.
.
"Bunda kerjaan apa kak?" Tanya Fafa dengan keinginan nya. Gadis imut itu kembali menatap wajah kakaknya. "Kakak nangis?" Tanya kembali setelah tak mendapat respon dari sang kakak.
.
Selepas termenung memikirkan debatan orang tua mereka yang hendak berpisah. "Nggak kok" Katanya. "Nanti juga pulang"
.
"Berarti bawa es krim?"
.
"Ditunggu ya"
.
Beberapa jam setelah itu sang bunda kembali ke rumah kediaman mereka. Fafa mulai merengek minta es krim sedang sang bunda malah gusar mendapati sang anak menangis karena es krim. Bukan karena apa apa juga ia tak mau membelikan. Untuk makan esok aja masih kurang kurang masa beli es krim untuk si kecil? Benar benar bimbang keadaannya miris melihat anak yang menginginkan tersebut.
.
"Kita main ke taman aja yuk?" Ajak bunda. Tapi Fafa menggeleng mencebik dan memukuli sang bunda. Bunda terus membujuk pun tak bisa sampai Fafa tertidur dalam gendongan.
.
Sampai batas Fafa menjadi anak anak tak dapat dijaganya. Semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ayah yang sudah pisah sah dengan bunda pun sudah menikah lagi. Sedangkan bundanya tak ada terfikirkan untuk menikah lagi. Usianya susah beranjak 10 tahun. Ia tumbuh menjadi gadis pemalu dan amat disegani teman temannya.
.
Ketika didekati temannya malah seolah dia ketakutan entah karena apa. Kebanyak dari temannya tak ingin mendekat seolah dirinya racun padahal, tidak begitu juga. Dan ternyata setelah ditelusuri penuh tentang dirinya yang banyak dijauhi sebab ayah tak pernah terlihat dari temannya. Temannya merasa dirinya hanyalah anak haram yang lahir tanpa keadaan seorang ayah. Ia begitu sedih dan meris merasakan hidup demikian susah sedari dini.
.
Sejak saat itu semua bermula. Ia tak pernah terbuka pada siapapun termasuk pada sang bunda. Sang bunda bolak balik keluar kota entah karena urusan apapun ia tak tau. Dan tak mau tau. Ingin segera selesaikan hidup ini. Malas dan menderita bersamaan dengan keadaannya. Dijauhi tetangga, dimusuhi teman, dan dibiarkan begitu?
.
Tak ada kasih sayang dari orang tuanya sekecil pun. Sibuk memikirkan hal keperluan masing-masing. Membiarkan Fafa, gadis pemalu itu menjadi bringas.
.
Suatu hari pernah sepulang sekolah ia tak langsung pulang. Ia pergi ke rumah nenek yang tak jauh dari desanya. Berharap di sana ia menemukan jalan buntunya. Ia lupa lupa ingat mengenai jalan di sana. Karena biasanya ia tertidur jika berkunjung ke sana.
.
Sedikit mengerti. Nama neneknya termasuk terkenal di desa itu. 'Nenek Maryam' terkenal cantik jelita dulunya. Kata bunda nenek kembang desa. Maka pantas saja jika sudah nenek nenek tapi masih menawan.
.
"Assalamu'alaikum"
.
"Wa'alaikumsalam, MasyaAllah cucu nenek. Apakabar sayang?" Balasnya dengan sumringah. Ia digiring masuk ke dalam rumah sederhana itu. Menatap sekitar semua foto keluarga. Nampak tak Mampang bundanya sama sekali di figura itu. Semua ada kecuali bunda.
.
"Baik nek, Alhamdulillah. Nenek gimana?"
.
"Alhamdulillah.. ya beginilah keadaan orang tua"
Sang nenek menuangkan wedang jahe karena nenek tau minuman kesukaan Fafa wedang jahe.
.
"Diminum ya.." Serunya pada Fafa.
.
"Ada apa kemari?"
.
"Tidak. Hanya ingin berkunjung saja. Tidak boleh ya nek?"
.
"Nggak papa dong. Bagus. Berarti kamu masih tau diri"
.
"Maksudnya nenek?"
.
"Eh, tidak tidak. Kamu kok sendirian saja? Kemana bunda mu itu?"
.
"Ada kok di rumah"
.
"Kenapa gak ada yang nganterin?"
.
"Tadi lepas pulang sekolah langsung kemari nek"
.
Sampai beberapa hari di rumah nenek tapi tak seorang pun ada yang mencari Fafa. Fafa amat gusar. Sedikit ia merindukan bunda dan kakaknya yang full day tanpa ada di rumah. Rumah seperti hunian istirahat. Sampai kembalian pulang ke rumah, tak ada satupun yang menghiraukan atau cemas karenanya.
.
Lelah. Menjani hidup lelah. Ia pasrah. Apa yang akan didapat kemudian hari adalah hal yang tak bisa dicegatnya. Cuma cuma ia mengadu pada Nya, jika semua takdir yang dilewatinya tak semanis yang diharapkan.
.
Hari demi hari berlalu sampai suatu waktu bunda Fafa menggeret koper besar. Ia tak gusar ingin bertanya segala macam pada sang bunda. Toh, pada kenyataannya dia seperti haluan di keluarga ini. Merasa dirinya hanyalah topeng belaka. Hidup penuh dihabiskan masa yang tak membahagiakan. Jangankan mikir bahagia. Memikirkan esok esok sekolah saja ia masih gamang.
.
Lalu, pergilah sang bunda. Tanpa sapa sua atau sekedar pamit dengan anak bungsu yang ditinggalkan. Seorang diri menatap nanar keadaan pilu.
.
Kakak nya yang juga mondar mandir kerja ini itu tak ada habisnya ia bersapa sua dengan sang kakak. Terlibat percakapan pun sangat jarang sekali. Seperti orang tak pernah ketemu makan harus menumpang tetangga atau kalau tidak pada nenek nya. Sangat miris.
.
.
.
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
.
.
.
Dan hari ini. Tengoklah keadaanku yang sudah mendewasa. Sudah 15 tahun lamanya aku hidup penuh likuan ujian yang tiada habisnya. Dikeruk oleh waktu. Tak punya harapan jelas. Tak ada tujuan untuk pencapaian.
.
SMA Harapan Bangsa. Kukira, ini adalah anak anak yang memiliki harapan untuk bangsa. Bebas bercita cita. Bebas berangan angan sesuai impian masing masing. Tapi, beda denganku ynag notabene hanya anak orang tua yang tak mau tahu sang anak.
.
Awal awal masa SMA aku berteman dengan salah satu gerombolan anak geng. Gak cabe cabean sih, cuma nakalnya juga gak kalah. Sempat merasa aku tak punya tujuan tempat meneruskan hidup. Meski aku tak banyak ikut melakukan apa yang mereka buat. Ternyata, segerombolan itu teman teman yang juga sama. Alhasil kami kompak satu sama lain. Seringkali mereka bikin onar, masalah berkepanjangan, pembukuan, dan lain sebagainya.
.
Nisa. Salah satu temanku yang juga diselimuti keluarga broken home. Sama denganku, ayah yang suka menyakiti bunda sampai akhirnya bikin trauma batin bergejolak. Bahwa, semua laki laki sama saja. Tak ada yang dipedulikan. Hidupnya hanya bersama orang tua asuh yang juga sibuk berkepanjangan. Hartanya yang tak bisa habis 7 turunan itu. Pegangannya kartu ATM yang berdigit angkanya. Tak heran, sifatnya yang sebelas dua belas denganku super cuek lingkungan malah bertemu di sini.
.
Hilya. Punya orang tua lengkap tapi sayang seribu sayangnya tak dipedulikan. Tak peduli dengan lingkungan sekitar karena didikan sejak dulu yang bersama dengan pengasuhnya. Seketika, ia punya pandangan semua orang tua sama.
.
Nana pun sama Nisa. Anak militan bangsa. Keluarganya yang kaya melintir tak habis sampai bawah 7 turunan sekaligus dia yang paling mengerti dari kita kita. Sifatnya yang punya kepekaan dan kepedulian tinggi memikat hati penuh dari teman temannya untuk saling peduli kita satu sama lain. Uangnya tak pernah habis sekalipun sering kita mintai. Tak ada perhitungan di kamus Nana. Ringan tangannya membuat teman sekelas pun jadi sungkan. Amat menarik. Dari keadaan kami berempat dialah yang paling agamis. Menurut ku. Sukanya pake hijab meski di luar sekolah pun.
.
"Na, gue suka deh liat Lo. Adem gitu rasanya" Puji Nisa. Baru kali ini nih wajah model berlian muji muji orang. Sejak kenal Nisa yang super super juteknya, tak sekalipun pernah muji orang. Kiranya, perlu apresiasi lebih dari seorang bisa.
.
"Alah, biasa aja kali" Elaknya. Ini juga yang bikin aku demen sama si Nana wajah imutnya gak kalah kalem juga sama bentuk omongannya. Sehalus sutra gitu. Eaa... Berapa apa aja ya diriku nih.
.
"Wajar ya si Nana nih plus plus. Pantes aja si Raka kelas IPA 2 kemaren malah sempet tengok dia nih. Ya kali, siapa sih yang gak mau sama Nana!" Godaku. Hanya ingin melihat reaksi Nana.
.
"Ya, terserah sih. Aku sama kalian aja. Lagian, kita di sini kan emang gak cari pacar"
.
"Kamu gak mau pacaran gitu emangnya?"
.
"Ngapain sih pacaran? Ngabisin waktu aja. Kita nih super sibuk. Sekolah jadi murid, di rumah jadi anak. Susah kalo ngatur waktu janjian sama doi. Secara juga yah, pacaran itu ikatan gak jelas. Coba deh kita lihat pasangan suami istri kalo udah nikah, sah kan? Udah melewati persyatan tertentu. Nah, kalo misal cerai, pasti ada sebab tertentu seseorang itu bercerai. Sedang kalo zaman sekarang? Pacaran udah kayak makanan wajib. Kalo gak pacaran sebelum nikah hal yang gak banget. Malah nih, banyak pasangan awet dalam pernikahan yang gak lewat jalan pacaran malah"
.
"Lha terus? Kita kalo gak kenal? Beli kucing dalam karung gitu?" Tanya Hilya. Pasang wajah seserius mungkin.
.
"Yah, gak gitu temen temen. Ada yang namanya ta'aruf. Nah, di ta'aruf itu kita bisa ngungkapin apa aja tentang diri kita masing masing. Pertanyaan pertanyaan yang mengaju pada hal hal pernikahan"
.
"Ah, si Nana mah begitu. Emang udah siap nikah?" Tanyaku. Aneh bicaranya udah pas banget. Kayak orang dah siap nikah aja.
.
"Ya belum waktunya. Tapi setidaknya kita gak terjebak di dunia yang marak ini. Mempersiapkan diri. Marak di masyarakat juga belum tentu hal tersebut dihalalkan. Karena, standar halal haram kita mengacu pada hukum perintah dan larangan dalam Islam"
.
"Nana ngaji dimana sih? Mau ikut dong!" Selorohku. Gak tau kenapa lihat jiwa jiwa Nana begini bikin aura ku bangkit balik. Entah punya sisi kenyamanan sendiri di Deket si Nana.
.
"Boleh banget. Nanti kita ngaji bareng tiap pekan--"
.
"What???? Tiap pekan? Serius?"
.
"Iyah.. kalo gak mau tiap pekan. Ya dua Minggu sekali juga boleh. Tapi, sesuatu yang baik itu gak lengkap kalo cuma dikit dikit"
.
"Oh... Apakata nanti deh ya"
.
"Emang gimana rasanya pas ngaji begitu?" Hilya yang super jutek gak kalah penasaran juga sama kita kita.
.
"Yaa adem gitu. Berasa ada yang lindungi. Meski sebenernya sama aja sih. Cuma beda ajalah rasanya. Makanya jadi betah lama lama meski juga capek"
.
"Nana kayak udah terbiasa dengan rasa capek" Celetuk Nisa sambil cekikikan.
.
"Ya gitu deh. Namanya juga hidup"
.
"Kenapa sih, kamu gak berteman sama yang baik baik aja? Kita kita padahal nakal lho" dengan rasa penasaran tinggi. Secara, Nana orang baik baik dipasangin temen kayak kita kita yang suka bikin rusuh, onar, buli. Ya meski beberapa kali diingetin juga sama si Nana tetep aja masih ditemenin. Sedang aku? Hanya cuek lingkungan.
.
"Ya, gak papa. Aku cuma bikin kalian nyaman. Setidaknya kalian punya rangkulan. Kalian juga gak pernah marah kalo aku gak ikutan? Kenapa coba?"
.
"Eh, iya ya" iya juga sih. Perasaan ya begiu kita saling cueknya kurang menegrti kondisi sebenarnya.
.
"Lov.. Lov.. Nana nih" Tiba tiba Hilya langsung meluk si Nana. Tanpa ba-bi-bu juga Nisa dan Aku ikut serta meluk Nana.
.
.
.
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
.
.
.
Sejak saat itu aku mulai ikut kajian dimana pun Nana mengajak. Meski sebenernya aku sedang dekat dengan seorang pria yang udah terlanjur buatku nyaman. Selama ini, aku gak pernah dekat sama namanya pria. Dia yang selalu antar jemput di luar pengetahuan temen temen.
.
Pernah sekali sewaktu bersama Devan, dipergoki Nisa yang super jutek dan lapor ke si Nana. Dengan santai nya Nana bilangin seadanya. Tanpa nge gas dan lain lain. Aku bilang, kalo misalnya aku dikeluarkan dari kajian juga gak papa. Tapi si Nana tetep banget ada di samping aku. Nemenin aku kemanapun aku mau. Sampai aku merasa sungkan sekali. Udah juga aku kasihan sama Devan yang antar jemput. Pacaran sih enggak, cuma ini yang bikin masalah berduaan ya. Boncengan bareng. Wa an, chatting. Padahal hal kayak gitu udah aku pelajari di kajian, hukumnya haram. Tapi, apalah dayaku?
.
Dua tahun, yaitu ketika aku kelas 3 SMA. Perang otak berlangsung semua sibuk cari cari. aku? Hanya melongo. Aku gak bisa berharap ke arah sana dengan keadaan yang sekarang di sekolah harapan ini aja aku bersyukur banget karena dapet bea siswa. Nilaiku yang selalu tinggi menjadi bea siswaku berjalan lancar sampai--- suatu waktu aku udah mulai hijrah total buat ngerubah semua pakaian, tata gaul, dll.
.
Praktek olahraga pun dimulai dengan keadaan pakai seragam yang dilapisi Rok. Sedangkan Nana udah beda kelas sama aku juga beda dengan temen temen lainnya yang segerombolan.
.
Waktu itu pengen banget nangis karena terancam bea siswa distop. Tapi aku yang udah keras kepala tetep teguh atas pendirian. Aku yakin meski hanya pakai rok bisa olah raga dengan benar. Saat deal ketika bea siswa ku bener bener distop. Padahal sekolah masih berlanjut sebulan dua bulan kedepan. Kalo Sampek aku yang keluar dari sekolah. Bakal jadi apa?
.
Berhari hari masih kupertahankan diriku. Tak ada surat panggilan atas terputus nya bea siswa. Sampai---
.
"Tenang Fa. Kamu akan tetep sekolah kok" seseorang menginterupsi diriku yang bermonolog sendiri. Aku sedikit tersentak kala melihat siapa orang itu. Ayah. Ayah yang bertahun tahun tak pernah kulihat. Sekelebat aku pernah membenci keadaan dimana aku tak suka bersamanya tapi? Ego ku terhempas lantaran karena rindu yang amat menggebu.
.
Beliau yang jauh jauh dari luar kota menengokku yang sudah diputuskan bea siswa nya. Anak macam apa aku ini? Apa karena teman teman yang ku yang super nakal nya, sehingga harus kualami juga?
.
Dan aku teringat saat masa kajian bersama Nana. Ini adalah bagian dari takdir Allah yang tak bisa manusia menguasainya. Dimana kita bisa berharap pada apapun, tapi Allah lah yang menentukan. Kupeluk ayah erat sekali. Tak peduli semua mata mata di sekolah menatapku. Aku yang sedang merindu.
.
Aku berbincang banyak persoalan tentang masa depanku nanti. Tapi kujawab saja, aku memang tak mau ke jenjang kuliah. Terlalu membosankan lama lama sekolah. Toh, pada akhirnya aku harus mengenyam di dapur?
.
Masih tak kupercaya sosok ayah masih ada di sampingku. Ayah yang menemaniku sampai hari Ujian Nasional menjelang. Disela hari hari itu aku tak terasa dengan keadaan keluarga yang menyurut. Ayah yang kemaren sangat sangat over protective terhadapku karena persiapan ujian. Malah, dihari pertama aku disuguhi kesedihan di wajahnya. Kakakku yang teramat sibuk pun akhirnya bergabung di dalam rumah. Aku, ayah, kakakku, dan terkecuali..... Bunda. Kemana bunda pun aku tak mengerti.
.
"Kenapa yah? Ada apa?" Tanyaku saat menatap sorot matanya yang digenangi air mata.
.
Ayah hanya mengusap sedikit di pelupuk matanya. "Gak papa"
.
Aku bukan anak kecil yang mudah dibodohi. Aku tak ingin membisu sampai aku keluar rumah dan mendengar suara mobil yang tidak ingin kudengar--
.
"Bunda udah pulang...." Ucapnya lirih. Kakakku Sinta. Ini benar bukan? Aku harap hanya mimpi tidurku saja. Dan ternyata? Benar benar nyata.
.
Lama tak kutemui bunda. Tau tau nya sudah meninggalkanku saja. Aku harus bagaimana? Aku tak bisa menangis. Diriku terdiam menatap semua orang yang berlalu-lalang. Aku kembali ke kamar. Tak tau harus berbuat apa. Kubaca Al Qur'an surah Yasin untuk bunda. Air mataku sudah tak bisa ditahan sampai waktunya pemakamannya pun aku tak bisa berkutit.
.
.
.
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
.
.
.
Besoknya aku kembali Ujian Nasional dengan perasaan campur aduk. Sahabat sahabatku yang dulu selalu bersama menatap penuh duka dihadapan ku. Mereka memelukku. Erat sekali. Sapaan pelukan mereka adalah kehangatan bagiku.
.
"Yang sabar ya. Ini ujian buat kamu" Kata kata Nana adalah obat terapi diri.
.
"Aku padamu Sobat" Ah, Nisa yang amat kurindukan. Sifat juteknya yang sudah lama memudar digantikan dengan sifatnya yang amat menggemaskan.
.
"Tetap semangat ya Fa. Semoga kita nanati sama sama berjalan yang jalan yang sama"
.
"Aamiin" ucapku pelan saat pelukan terlepas.
.
Dan hari akhir pun tiba dan seseorang yang tak ingin melihat akhirnya nampak. Dengan gelagap aku mundur dan menghindari tatapannya. Ia sedikit keras mengikuti jalanku sampai depan koridor lantai 2 langkahku terhenti.
.
"Mau apa? Sudah selesai bukan kak? Bukannya kamu udah kuliah?"
.
"Alhamdulillah sudah. Bukan. Bukan itu yang dimaksud. Aku hanya ingin bertemu ayahmu"
.
"Tak boleh! Lagi pula, tak penting. Mau ada perlu apa memangnya?" Sewotku. Biar. Biar sekalian dia tak pernah mengusik ku lagi. Aku lelah dengan laki laki. Apalagi yang pernah membuatku nyaman. Tak boleh rasa ini menggunung kembali.
.
"Mau bertemu saja"
.
"Tak boleh! Kalau tak boleh ya tak boleh! Sudah! Jangan pernah temui aku lagi!"
.
End
.
Semua yang aku ucapkan adalah hal serius. Aku ingin fokus membenahi diri. Tak layak rasanya jika aku berpasang dengan nya yang amat baik. Sukar dijabarkan kebaikan kebaikan nya selama ini.
.
.
.
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
.
.
.
Aku tak menyangka hanya karena hidupku tanpa kasih sayang orang tua dulu menjadi sukses sampai detik ini. Aku tak lagi menyalahkan mereka yang berpisah karena apa. Aku juga tak ingin berlarut karena kepergian bunda. Selama aku masih punya doa, harapan, dan kepercayaan atas semua yang pernah mereka inginkan adalah hal terbesar bagiku. Dan lebih tak dipercaya lagi. Seorang Fafa punya Toko yang dengan toko buku tersebut aku bisa juga menerbitkan buku. Dan benar. Alhamdulillah berjuang selama 2 tahun ini atas bantuan Bunda Farah mentor kepenulisan ku yang dengan sabarnya membimbing diriku sampai saat ini.
.
"Genggaman yang Merubah"
.
Sebuah Novel karyaku yang kutuangkan kisah kisah huru hara ku Selama hidup. Dengan terbitan Harapan Media.
.
Tak dinaya. Tak lama berselang satu bulan lamanya aku dipanggil salah satu acara yang katanya ingin membedah buku Novelku dengan berkolaborasi penulis lain. Selang acaranya sebulan lagi. Mungkin bisa kupersiapkan lebih matang. Kulihat nama penulisnya memakai nama Pena. 'Defa'
.
.
.
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
.
.
Ketiga sahabat ku yang tak kusangka sangka sudah menikah. Karena aku yang lost kontak dengan mereka sampai akhirnya aku terpampang di media. Dan mereka benar benar mengejutkan menghampiri kediamanku. Kukira hanya satu orang tapi? Semua mendukungku.
.
"Wah, MasyaAllah... Kalian ku yang kurindukan ternyata sudah taken aja" kataku sumringah. Menahan kerinduan yang menggebu.
.
"Alhamdulillah.. akhirnya kita bertemu juga" Nana tetap sama. Baik, lembut, dan susah dijelaskan kebaikannya.
.
"Oh iya" Seru Hilya. Kusyukuri dari seorang Hilya yang sedang hamil besar jauh jauh datang hanya untuk melihat ku. "Aku ada hadiah"
.
"Hadiah apa?" Aku penasaran hadiah apa maksudnya.
.
"Tadaaa" Nisa keluar dan masuk ke dalam rumah membawa bingkisan kado. Kukira mereka tak tau kalau aku akan menikah.
.
Menikah? Ya. Aku sudah bertekad untuk tak lagi tertutup. Kali ini aku tak mau tau tentang wajah dan segala macam pria yang ingin menikahi ku tapi. Aku percayakan Bunda Farah tak akan salah pilih. Meski memang, harusnya tak boleh seperti itu. Sudah kemantapan ku untuk tidak tau.
.
"Main rahasia rahasiaan. Memangnya kita gak bakal tau?"
.
"Pasti kalian bakal ketawa?"
.
"Aih, kenapa ketawa?" Nana menggodaku, menatap lamat ekspresi wajah.
.
Kata Bahagia Tan peenah kubayangkan lagi. Lesu menatap kehidupan lalu. Tapi, kini tak lagi. Karena aku punya tujuan hidup meneruskan impian yang sempat tertunda tujuannya.
.
Hamparan kertas putih menorehkan luka lama. Meratapi tulisan usang yang membuka tabir masalalu. Terbit sekian peristiwa buram semasa buntunya jalan.
.
.
.
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
.
.
.
Hari sakral yang ditunggu tunggu pun tiba. Saatnya merubah status baru. Setelah sekian lama aku menolak semua pria karena kecewanya terhadap satu persoalan pria yang tak kutahu permasalahan nya apa. Mungkin, itu hanya suatu kondisi yang tak perlu kuketahui. Layaknya
.
Kali ini aku ingin bercerita tentang masaku yang kelam. Jika sekarang aku tak mengenalnya, maka tak selamanya pun aku akan tau apa kepentinganku melanjutkan hidup. Tak terasa sudah 4 tahun lamanya hidup ku amat terawat. Kata terimakasih saja tak bisa mengungkapkan jelasnya kebahagiaan yang bermula. Ia penolong yang sangat membantu. Terlebih kisah ini menghayati. Siapapun kamu, apapun keadaanmu, jangan merasa dirimu amat kecil tapi? Besarkan yang kecil tersebut dengan harapan dan impian yang besar. Yang bisa menggapai semua impian tanpa pandang orang orang sekitar. Kamu hebat! Iya kamu! Mari, sedikit saya kisahkan hal duka ini. Masih menganga. Bahkan sampai detik ini.
.
.
.
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
.
.
.
Gadis kecil itu kembali merengek meminta sesuap nasi dari tangan sang bunda. Tapi ditepisnya oleh sang ayah. Kasar! Sangat kasar! Bahkan tak elok ditampakkan di depan manapun. Gadis kecil itu menangis, tergugu menatap nanar sosok ayahnya yang juga menampar pipi bunda. Kala itu, gadis tersebut hanya menangis sekuatnya. Tak ada tetangga yang mendengar urakan mereka karena rumah mereka yang amat tertutup dari penghunian warna sekitar. Wajar saja.
.
Kali ini surat itu tergeletak di atas meja digebrakkannya pula sampai dentuman kuat mengejutkan sang gadis kecil. Ia meringkuk dan kembali merangkak pada pangkuan sang bunda. Hidupnya penuh misteri. Ketika itu pun sang bunda tak dinaya melepas pelukan sang anak. Ia mengurungkan di dalam kamarnya. Masih umur 4 tahun. Dirinya terlalu tabu untuk hal seperti itu. Menatap miris sang bunda dan kembali menangis. Sampai akhirnya tertidur dan terbangun di atas tempat tidur.
.
Melihat sang kakak di samping tempat tidur menemaninya sepanjang tidur. Gadis terlalu polos untuk mengerti hal demikian. Sang kakak pun dengan wajah yang sembab dan memerah menatap duka penuh pada sang adik. Ia sedikit merubah raut wajah kesedihan dengan senyuman yang dibuatnya.
.
"Adek gak papa?" Tanyanya khawatir. Gadis itu masih terdiam mencerna kegusaran yang dipikirkan.
.
"Gak papa" katanya berusaha setenang mungkin.
.
"Nanti tidur sama kakak yah?"
.
"Gak mau, sama bunda.." Rengeknya pada kakaknya. Sang kakak menggeleng lesu. Susah mengungkapkan isi hatinya dengan gamblang.
.
"Bunda lagi banyak kerjaan dek"
.
"Pokoknya mau sama bunda" Elaknya tak ingin telak.
.
"Yaudah sini kakak gendong" Rayunya kemudian mengangkat sang adik dalam gendongan. Ia hanya ingin membuat sang adik tenang. Meski dirinya sendiri sekarang merasakan kegusaran teramat.
.
"Bunda kerjaan apa kak?" Tanya Fafa dengan keinginan nya. Gadis imut itu kembali menatap wajah kakaknya. "Kakak nangis?" Tanya kembali setelah tak mendapat respon dari sang kakak.
.
Selepas termenung memikirkan debatan orang tua mereka yang hendak berpisah. "Nggak kok" Katanya. "Nanti juga pulang"
.
"Berarti bawa es krim?"
.
"Ditunggu ya"
.
Beberapa jam setelah itu sang bunda kembali ke rumah kediaman mereka. Fafa mulai merengek minta es krim sedang sang bunda malah gusar mendapati sang anak menangis karena es krim. Bukan karena apa apa juga ia tak mau membelikan. Untuk makan esok aja masih kurang kurang masa beli es krim untuk si kecil? Benar benar bimbang keadaannya miris melihat anak yang menginginkan tersebut.
.
"Kita main ke taman aja yuk?" Ajak bunda. Tapi Fafa menggeleng mencebik dan memukuli sang bunda. Bunda terus membujuk pun tak bisa sampai Fafa tertidur dalam gendongan.
.
Sampai batas Fafa menjadi anak anak tak dapat dijaganya. Semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ayah yang sudah pisah sah dengan bunda pun sudah menikah lagi. Sedangkan bundanya tak ada terfikirkan untuk menikah lagi. Usianya susah beranjak 10 tahun. Ia tumbuh menjadi gadis pemalu dan amat disegani teman temannya.
.
Ketika didekati temannya malah seolah dia ketakutan entah karena apa. Kebanyak dari temannya tak ingin mendekat seolah dirinya racun padahal, tidak begitu juga. Dan ternyata setelah ditelusuri penuh tentang dirinya yang banyak dijauhi sebab ayah tak pernah terlihat dari temannya. Temannya merasa dirinya hanyalah anak haram yang lahir tanpa keadaan seorang ayah. Ia begitu sedih dan meris merasakan hidup demikian susah sedari dini.
.
Sejak saat itu semua bermula. Ia tak pernah terbuka pada siapapun termasuk pada sang bunda. Sang bunda bolak balik keluar kota entah karena urusan apapun ia tak tau. Dan tak mau tau. Ingin segera selesaikan hidup ini. Malas dan menderita bersamaan dengan keadaannya. Dijauhi tetangga, dimusuhi teman, dan dibiarkan begitu?
.
Tak ada kasih sayang dari orang tuanya sekecil pun. Sibuk memikirkan hal keperluan masing-masing. Membiarkan Fafa, gadis pemalu itu menjadi bringas.
.
Suatu hari pernah sepulang sekolah ia tak langsung pulang. Ia pergi ke rumah nenek yang tak jauh dari desanya. Berharap di sana ia menemukan jalan buntunya. Ia lupa lupa ingat mengenai jalan di sana. Karena biasanya ia tertidur jika berkunjung ke sana.
.
Sedikit mengerti. Nama neneknya termasuk terkenal di desa itu. 'Nenek Maryam' terkenal cantik jelita dulunya. Kata bunda nenek kembang desa. Maka pantas saja jika sudah nenek nenek tapi masih menawan.
.
"Assalamu'alaikum"
.
"Wa'alaikumsalam, MasyaAllah cucu nenek. Apakabar sayang?" Balasnya dengan sumringah. Ia digiring masuk ke dalam rumah sederhana itu. Menatap sekitar semua foto keluarga. Nampak tak Mampang bundanya sama sekali di figura itu. Semua ada kecuali bunda.
.
"Baik nek, Alhamdulillah. Nenek gimana?"
.
"Alhamdulillah.. ya beginilah keadaan orang tua"
Sang nenek menuangkan wedang jahe karena nenek tau minuman kesukaan Fafa wedang jahe.
.
"Diminum ya.." Serunya pada Fafa.
.
"Ada apa kemari?"
.
"Tidak. Hanya ingin berkunjung saja. Tidak boleh ya nek?"
.
"Nggak papa dong. Bagus. Berarti kamu masih tau diri"
.
"Maksudnya nenek?"
.
"Eh, tidak tidak. Kamu kok sendirian saja? Kemana bunda mu itu?"
.
"Ada kok di rumah"
.
"Kenapa gak ada yang nganterin?"
.
"Tadi lepas pulang sekolah langsung kemari nek"
.
Sampai beberapa hari di rumah nenek tapi tak seorang pun ada yang mencari Fafa. Fafa amat gusar. Sedikit ia merindukan bunda dan kakaknya yang full day tanpa ada di rumah. Rumah seperti hunian istirahat. Sampai kembalian pulang ke rumah, tak ada satupun yang menghiraukan atau cemas karenanya.
.
Lelah. Menjani hidup lelah. Ia pasrah. Apa yang akan didapat kemudian hari adalah hal yang tak bisa dicegatnya. Cuma cuma ia mengadu pada Nya, jika semua takdir yang dilewatinya tak semanis yang diharapkan.
.
Hari demi hari berlalu sampai suatu waktu bunda Fafa menggeret koper besar. Ia tak gusar ingin bertanya segala macam pada sang bunda. Toh, pada kenyataannya dia seperti haluan di keluarga ini. Merasa dirinya hanyalah topeng belaka. Hidup penuh dihabiskan masa yang tak membahagiakan. Jangankan mikir bahagia. Memikirkan esok esok sekolah saja ia masih gamang.
.
Lalu, pergilah sang bunda. Tanpa sapa sua atau sekedar pamit dengan anak bungsu yang ditinggalkan. Seorang diri menatap nanar keadaan pilu.
.
Kakak nya yang juga mondar mandir kerja ini itu tak ada habisnya ia bersapa sua dengan sang kakak. Terlibat percakapan pun sangat jarang sekali. Seperti orang tak pernah ketemu makan harus menumpang tetangga atau kalau tidak pada nenek nya. Sangat miris.
.
.
.
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
.
.
.
Dan hari ini. Tengoklah keadaanku yang sudah mendewasa. Sudah 15 tahun lamanya aku hidup penuh likuan ujian yang tiada habisnya. Dikeruk oleh waktu. Tak punya harapan jelas. Tak ada tujuan untuk pencapaian.
.
SMA Harapan Bangsa. Kukira, ini adalah anak anak yang memiliki harapan untuk bangsa. Bebas bercita cita. Bebas berangan angan sesuai impian masing masing. Tapi, beda denganku ynag notabene hanya anak orang tua yang tak mau tahu sang anak.
.
Awal awal masa SMA aku berteman dengan salah satu gerombolan anak geng. Gak cabe cabean sih, cuma nakalnya juga gak kalah. Sempat merasa aku tak punya tujuan tempat meneruskan hidup. Meski aku tak banyak ikut melakukan apa yang mereka buat. Ternyata, segerombolan itu teman teman yang juga sama. Alhasil kami kompak satu sama lain. Seringkali mereka bikin onar, masalah berkepanjangan, pembukuan, dan lain sebagainya.
.
Nisa. Salah satu temanku yang juga diselimuti keluarga broken home. Sama denganku, ayah yang suka menyakiti bunda sampai akhirnya bikin trauma batin bergejolak. Bahwa, semua laki laki sama saja. Tak ada yang dipedulikan. Hidupnya hanya bersama orang tua asuh yang juga sibuk berkepanjangan. Hartanya yang tak bisa habis 7 turunan itu. Pegangannya kartu ATM yang berdigit angkanya. Tak heran, sifatnya yang sebelas dua belas denganku super cuek lingkungan malah bertemu di sini.
.
Hilya. Punya orang tua lengkap tapi sayang seribu sayangnya tak dipedulikan. Tak peduli dengan lingkungan sekitar karena didikan sejak dulu yang bersama dengan pengasuhnya. Seketika, ia punya pandangan semua orang tua sama.
.
Nana pun sama Nisa. Anak militan bangsa. Keluarganya yang kaya melintir tak habis sampai bawah 7 turunan sekaligus dia yang paling mengerti dari kita kita. Sifatnya yang punya kepekaan dan kepedulian tinggi memikat hati penuh dari teman temannya untuk saling peduli kita satu sama lain. Uangnya tak pernah habis sekalipun sering kita mintai. Tak ada perhitungan di kamus Nana. Ringan tangannya membuat teman sekelas pun jadi sungkan. Amat menarik. Dari keadaan kami berempat dialah yang paling agamis. Menurut ku. Sukanya pake hijab meski di luar sekolah pun.
.
"Na, gue suka deh liat Lo. Adem gitu rasanya" Puji Nisa. Baru kali ini nih wajah model berlian muji muji orang. Sejak kenal Nisa yang super super juteknya, tak sekalipun pernah muji orang. Kiranya, perlu apresiasi lebih dari seorang bisa.
.
"Alah, biasa aja kali" Elaknya. Ini juga yang bikin aku demen sama si Nana wajah imutnya gak kalah kalem juga sama bentuk omongannya. Sehalus sutra gitu. Eaa... Berapa apa aja ya diriku nih.
.
"Wajar ya si Nana nih plus plus. Pantes aja si Raka kelas IPA 2 kemaren malah sempet tengok dia nih. Ya kali, siapa sih yang gak mau sama Nana!" Godaku. Hanya ingin melihat reaksi Nana.
.
"Ya, terserah sih. Aku sama kalian aja. Lagian, kita di sini kan emang gak cari pacar"
.
"Kamu gak mau pacaran gitu emangnya?"
.
"Ngapain sih pacaran? Ngabisin waktu aja. Kita nih super sibuk. Sekolah jadi murid, di rumah jadi anak. Susah kalo ngatur waktu janjian sama doi. Secara juga yah, pacaran itu ikatan gak jelas. Coba deh kita lihat pasangan suami istri kalo udah nikah, sah kan? Udah melewati persyatan tertentu. Nah, kalo misal cerai, pasti ada sebab tertentu seseorang itu bercerai. Sedang kalo zaman sekarang? Pacaran udah kayak makanan wajib. Kalo gak pacaran sebelum nikah hal yang gak banget. Malah nih, banyak pasangan awet dalam pernikahan yang gak lewat jalan pacaran malah"
.
"Lha terus? Kita kalo gak kenal? Beli kucing dalam karung gitu?" Tanya Hilya. Pasang wajah seserius mungkin.
.
"Yah, gak gitu temen temen. Ada yang namanya ta'aruf. Nah, di ta'aruf itu kita bisa ngungkapin apa aja tentang diri kita masing masing. Pertanyaan pertanyaan yang mengaju pada hal hal pernikahan"
.
"Ah, si Nana mah begitu. Emang udah siap nikah?" Tanyaku. Aneh bicaranya udah pas banget. Kayak orang dah siap nikah aja.
.
"Ya belum waktunya. Tapi setidaknya kita gak terjebak di dunia yang marak ini. Mempersiapkan diri. Marak di masyarakat juga belum tentu hal tersebut dihalalkan. Karena, standar halal haram kita mengacu pada hukum perintah dan larangan dalam Islam"
.
"Nana ngaji dimana sih? Mau ikut dong!" Selorohku. Gak tau kenapa lihat jiwa jiwa Nana begini bikin aura ku bangkit balik. Entah punya sisi kenyamanan sendiri di Deket si Nana.
.
"Boleh banget. Nanti kita ngaji bareng tiap pekan--"
.
"What???? Tiap pekan? Serius?"
.
"Iyah.. kalo gak mau tiap pekan. Ya dua Minggu sekali juga boleh. Tapi, sesuatu yang baik itu gak lengkap kalo cuma dikit dikit"
.
"Oh... Apakata nanti deh ya"
.
"Emang gimana rasanya pas ngaji begitu?" Hilya yang super jutek gak kalah penasaran juga sama kita kita.
.
"Yaa adem gitu. Berasa ada yang lindungi. Meski sebenernya sama aja sih. Cuma beda ajalah rasanya. Makanya jadi betah lama lama meski juga capek"
.
"Nana kayak udah terbiasa dengan rasa capek" Celetuk Nisa sambil cekikikan.
.
"Ya gitu deh. Namanya juga hidup"
.
"Kenapa sih, kamu gak berteman sama yang baik baik aja? Kita kita padahal nakal lho" dengan rasa penasaran tinggi. Secara, Nana orang baik baik dipasangin temen kayak kita kita yang suka bikin rusuh, onar, buli. Ya meski beberapa kali diingetin juga sama si Nana tetep aja masih ditemenin. Sedang aku? Hanya cuek lingkungan.
.
"Ya, gak papa. Aku cuma bikin kalian nyaman. Setidaknya kalian punya rangkulan. Kalian juga gak pernah marah kalo aku gak ikutan? Kenapa coba?"
.
"Eh, iya ya" iya juga sih. Perasaan ya begiu kita saling cueknya kurang menegrti kondisi sebenarnya.
.
"Lov.. Lov.. Nana nih" Tiba tiba Hilya langsung meluk si Nana. Tanpa ba-bi-bu juga Nisa dan Aku ikut serta meluk Nana.
.
.
.
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
.
.
.
Sejak saat itu aku mulai ikut kajian dimana pun Nana mengajak. Meski sebenernya aku sedang dekat dengan seorang pria yang udah terlanjur buatku nyaman. Selama ini, aku gak pernah dekat sama namanya pria. Dia yang selalu antar jemput di luar pengetahuan temen temen.
.
Pernah sekali sewaktu bersama Devan, dipergoki Nisa yang super jutek dan lapor ke si Nana. Dengan santai nya Nana bilangin seadanya. Tanpa nge gas dan lain lain. Aku bilang, kalo misalnya aku dikeluarkan dari kajian juga gak papa. Tapi si Nana tetep banget ada di samping aku. Nemenin aku kemanapun aku mau. Sampai aku merasa sungkan sekali. Udah juga aku kasihan sama Devan yang antar jemput. Pacaran sih enggak, cuma ini yang bikin masalah berduaan ya. Boncengan bareng. Wa an, chatting. Padahal hal kayak gitu udah aku pelajari di kajian, hukumnya haram. Tapi, apalah dayaku?
.
Dua tahun, yaitu ketika aku kelas 3 SMA. Perang otak berlangsung semua sibuk cari cari. aku? Hanya melongo. Aku gak bisa berharap ke arah sana dengan keadaan yang sekarang di sekolah harapan ini aja aku bersyukur banget karena dapet bea siswa. Nilaiku yang selalu tinggi menjadi bea siswaku berjalan lancar sampai--- suatu waktu aku udah mulai hijrah total buat ngerubah semua pakaian, tata gaul, dll.
.
Praktek olahraga pun dimulai dengan keadaan pakai seragam yang dilapisi Rok. Sedangkan Nana udah beda kelas sama aku juga beda dengan temen temen lainnya yang segerombolan.
.
Waktu itu pengen banget nangis karena terancam bea siswa distop. Tapi aku yang udah keras kepala tetep teguh atas pendirian. Aku yakin meski hanya pakai rok bisa olah raga dengan benar. Saat deal ketika bea siswa ku bener bener distop. Padahal sekolah masih berlanjut sebulan dua bulan kedepan. Kalo Sampek aku yang keluar dari sekolah. Bakal jadi apa?
.
Berhari hari masih kupertahankan diriku. Tak ada surat panggilan atas terputus nya bea siswa. Sampai---
.
"Tenang Fa. Kamu akan tetep sekolah kok" seseorang menginterupsi diriku yang bermonolog sendiri. Aku sedikit tersentak kala melihat siapa orang itu. Ayah. Ayah yang bertahun tahun tak pernah kulihat. Sekelebat aku pernah membenci keadaan dimana aku tak suka bersamanya tapi? Ego ku terhempas lantaran karena rindu yang amat menggebu.
.
Beliau yang jauh jauh dari luar kota menengokku yang sudah diputuskan bea siswa nya. Anak macam apa aku ini? Apa karena teman teman yang ku yang super nakal nya, sehingga harus kualami juga?
.
Dan aku teringat saat masa kajian bersama Nana. Ini adalah bagian dari takdir Allah yang tak bisa manusia menguasainya. Dimana kita bisa berharap pada apapun, tapi Allah lah yang menentukan. Kupeluk ayah erat sekali. Tak peduli semua mata mata di sekolah menatapku. Aku yang sedang merindu.
.
Aku berbincang banyak persoalan tentang masa depanku nanti. Tapi kujawab saja, aku memang tak mau ke jenjang kuliah. Terlalu membosankan lama lama sekolah. Toh, pada akhirnya aku harus mengenyam di dapur?
.
Masih tak kupercaya sosok ayah masih ada di sampingku. Ayah yang menemaniku sampai hari Ujian Nasional menjelang. Disela hari hari itu aku tak terasa dengan keadaan keluarga yang menyurut. Ayah yang kemaren sangat sangat over protective terhadapku karena persiapan ujian. Malah, dihari pertama aku disuguhi kesedihan di wajahnya. Kakakku yang teramat sibuk pun akhirnya bergabung di dalam rumah. Aku, ayah, kakakku, dan terkecuali..... Bunda. Kemana bunda pun aku tak mengerti.
.
"Kenapa yah? Ada apa?" Tanyaku saat menatap sorot matanya yang digenangi air mata.
.
Ayah hanya mengusap sedikit di pelupuk matanya. "Gak papa"
.
Aku bukan anak kecil yang mudah dibodohi. Aku tak ingin membisu sampai aku keluar rumah dan mendengar suara mobil yang tidak ingin kudengar--
.
"Bunda udah pulang...." Ucapnya lirih. Kakakku Sinta. Ini benar bukan? Aku harap hanya mimpi tidurku saja. Dan ternyata? Benar benar nyata.
.
Lama tak kutemui bunda. Tau tau nya sudah meninggalkanku saja. Aku harus bagaimana? Aku tak bisa menangis. Diriku terdiam menatap semua orang yang berlalu-lalang. Aku kembali ke kamar. Tak tau harus berbuat apa. Kubaca Al Qur'an surah Yasin untuk bunda. Air mataku sudah tak bisa ditahan sampai waktunya pemakamannya pun aku tak bisa berkutit.
.
.
.
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
.
.
.
Besoknya aku kembali Ujian Nasional dengan perasaan campur aduk. Sahabat sahabatku yang dulu selalu bersama menatap penuh duka dihadapan ku. Mereka memelukku. Erat sekali. Sapaan pelukan mereka adalah kehangatan bagiku.
.
"Yang sabar ya. Ini ujian buat kamu" Kata kata Nana adalah obat terapi diri.
.
"Aku padamu Sobat" Ah, Nisa yang amat kurindukan. Sifat juteknya yang sudah lama memudar digantikan dengan sifatnya yang amat menggemaskan.
.
"Tetap semangat ya Fa. Semoga kita nanati sama sama berjalan yang jalan yang sama"
.
"Aamiin" ucapku pelan saat pelukan terlepas.
.
Dan hari akhir pun tiba dan seseorang yang tak ingin melihat akhirnya nampak. Dengan gelagap aku mundur dan menghindari tatapannya. Ia sedikit keras mengikuti jalanku sampai depan koridor lantai 2 langkahku terhenti.
.
"Mau apa? Sudah selesai bukan kak? Bukannya kamu udah kuliah?"
.
"Alhamdulillah sudah. Bukan. Bukan itu yang dimaksud. Aku hanya ingin bertemu ayahmu"
.
"Tak boleh! Lagi pula, tak penting. Mau ada perlu apa memangnya?" Sewotku. Biar. Biar sekalian dia tak pernah mengusik ku lagi. Aku lelah dengan laki laki. Apalagi yang pernah membuatku nyaman. Tak boleh rasa ini menggunung kembali.
.
"Mau bertemu saja"
.
"Tak boleh! Kalau tak boleh ya tak boleh! Sudah! Jangan pernah temui aku lagi!"
.
End
.
Semua yang aku ucapkan adalah hal serius. Aku ingin fokus membenahi diri. Tak layak rasanya jika aku berpasang dengan nya yang amat baik. Sukar dijabarkan kebaikan kebaikan nya selama ini.
.
.
.
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
.
.
.
Aku tak menyangka hanya karena hidupku tanpa kasih sayang orang tua dulu menjadi sukses sampai detik ini. Aku tak lagi menyalahkan mereka yang berpisah karena apa. Aku juga tak ingin berlarut karena kepergian bunda. Selama aku masih punya doa, harapan, dan kepercayaan atas semua yang pernah mereka inginkan adalah hal terbesar bagiku. Dan lebih tak dipercaya lagi. Seorang Fafa punya Toko yang dengan toko buku tersebut aku bisa juga menerbitkan buku. Dan benar. Alhamdulillah berjuang selama 2 tahun ini atas bantuan Bunda Farah mentor kepenulisan ku yang dengan sabarnya membimbing diriku sampai saat ini.
.
"Genggaman yang Merubah"
.
Sebuah Novel karyaku yang kutuangkan kisah kisah huru hara ku Selama hidup. Dengan terbitan Harapan Media.
.
Tak dinaya. Tak lama berselang satu bulan lamanya aku dipanggil salah satu acara yang katanya ingin membedah buku Novelku dengan berkolaborasi penulis lain. Selang acaranya sebulan lagi. Mungkin bisa kupersiapkan lebih matang. Kulihat nama penulisnya memakai nama Pena. 'Defa'
.
.
.
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
.
.
Ketiga sahabat ku yang tak kusangka sangka sudah menikah. Karena aku yang lost kontak dengan mereka sampai akhirnya aku terpampang di media. Dan mereka benar benar mengejutkan menghampiri kediamanku. Kukira hanya satu orang tapi? Semua mendukungku.
.
"Wah, MasyaAllah... Kalian ku yang kurindukan ternyata sudah taken aja" kataku sumringah. Menahan kerinduan yang menggebu.
.
"Alhamdulillah.. akhirnya kita bertemu juga" Nana tetap sama. Baik, lembut, dan susah dijelaskan kebaikannya.
.
"Oh iya" Seru Hilya. Kusyukuri dari seorang Hilya yang sedang hamil besar jauh jauh datang hanya untuk melihat ku. "Aku ada hadiah"
.
"Hadiah apa?" Aku penasaran hadiah apa maksudnya.
.
"Tadaaa" Nisa keluar dan masuk ke dalam rumah membawa bingkisan kado. Kukira mereka tak tau kalau aku akan menikah.
.
Menikah? Ya. Aku sudah bertekad untuk tak lagi tertutup. Kali ini aku tak mau tau tentang wajah dan segala macam pria yang ingin menikahi ku tapi. Aku percayakan Bunda Farah tak akan salah pilih. Meski memang, harusnya tak boleh seperti itu. Sudah kemantapan ku untuk tidak tau.
.
"Main rahasia rahasiaan. Memangnya kita gak bakal tau?"
.
"Pasti kalian bakal ketawa?"
.
"Aih, kenapa ketawa?" Nana menggodaku, menatap lamat ekspresi wajah.
.
Kata Bahagia Tan peenah kubayangkan lagi. Lesu menatap kehidupan lalu. Tapi, kini tak lagi. Karena aku punya tujuan hidup meneruskan impian yang sempat tertunda tujuannya.
.
Hamparan kertas putih menorehkan luka lama. Meratapi tulisan usang yang membuka tabir masalalu. Terbit sekian peristiwa buram semasa buntunya jalan.
.
.
.
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
.
.
.
Hari sakral yang ditunggu tunggu pun tiba. Saatnya merubah status baru. Setelah sekian lama aku menolak semua pria karena kecewanya terhadap satu persoalan pria yang tak kutahu permasalahan nya apa. Mungkin, itu hanya suatu kondisi yang tak perlu kuketahui. Layaknya
Komentar
Posting Komentar