Ketika Menikah Denganku?! #1



Masanya seseorang lazim ketika sudah menikah berbulan bulan mesra nya nampak. Tapi beda dengan pasangan muda satu ini. Tak ada rasa mesra mesra nya. Karena menurut pendapat pribadi mereka juga kemesraan pasangan itu jangan ditampakkan di depan umum. Apalagi di depan para jomblower. Tapi ada juga yang lebih membuat pasangan muda ini menjadikan hari hari penuh recokan. Jangan kan mesra, tiap kali berjumpa saja selalu cekcok, ada saja alasan mereka bertekar. Entah yang sepele sampai yang berat sekalipun mereka pikulnya.

Wajar saja mereka yang seperti itu diusia yang masih belia dan dengan keadaan dari keduanya yang belum matang. Tapi keputusan mereka amat bulat untuk tidak melewati masa masa pendekatan dulu. Meski salaah satu dari mereka ada yang berkorban penuh untuk mempersatukan antara keduanya. Tak ayal mereka layaknya pasangan muda mudi yang masih pacaran. Keistimewaan nya diantara pasangan lain yang berani berjalan berdua tapi mereka sudah halal.

"Abang ini selalu kayak gini. Berangkat pagi kuliah, sampai malam begini baru datang" ucapnya sang istri dengan merajuk.

Pasalnya, ia tak suka suami yang selalu sibuk dengan kepentingannya. Entah kuliah atau pun organisasi nya yang bajebun dia ikuti, ketika diajak ngaji Kaffah tidak mau?! Mau bagaimana lagi mereka jika sudah ditakdirkan berjodoh ya berjodoh saja.

"Sudah berapa bulan Abang seperti ini? Adek kan jadi sendirian terus abangggg.." suara menurun karna tak kuat menahan Isak tangis. Badannya mulai gemetar di sofa ruang tamu. Sedari Maghrib menunggu sang suami pulang dari kegiatan hariaannya. Matanya makin sayu dengan wajah yang kelelahan menahan rindu. "Adek kan kangen sama Abang"

Sang suami mendekat duduk di sebelah sang istri. Diam. Tak berani berkata. Selama berbulan ini ia banyak diam karna sang istri yang selalu cekcok dengan tegurannya. Sadar dirinya salah, tapi entah belum bisa dirubahnya sampai sekarang. Bahkan ketika sang mertua yang notabene ayah dari istri mengajak ke kajian di rumah ketika itu ia hanya ikut serta, selepasnya izin kebelakang belum sampai rampunya dah lelap dulu.

"Abang pulang malam kan untuk adek juga? Biar sama sama bisa makan.. sama sama belajar.." sambil mengelus rambut sang istri. Perlahan memeluknya,bukan makin mereda dipeluk malah semakin kencang getaran di bahunya. "Lho, adek kok makin kenceng nangisnya? Abang salah ngomong lagi nih?" Tanyanya dan merusaha melihat wajah sang istri. Namun istri nya tak ingin beranjak dari pelukannya. Kerinduannya kepada sang suami teramat besar.

"Abang ih pu- pulang... Ma-malam.. te-terusss...." Katanya dengan suara terbatanya selepas menangis,ia menarik napas sampai nafas nya teratur kembali. "Adek di sini sendirian lho. Ngapain sih kita ngontrak segala kalo ujungnya Abang gak pernah pulang? Adek kesepian ga ada Abang.. pulang malem biasanya Abang tuh di kantor pers ga ada kerjaan. Main sama temen temen gak jelas. Di sini kan udah ada adek untuk Abang jagain, kenapa sih bikin nangis terus? Masa adek harus ngomel terus tiap hari? Adek kan juga punya capek"

"Yaaa terus Abang gimana dong? Kerjaannya kan banyak dek.. gak cuman ngurus adek doang.. adek nya sih pake manja nya malam ini kebangetan" katanya menyindir.

Faizah, sang istri bangun dari pelukan suami nya. Merasa sakit hati karna respon komen nya jauh dari pikirannya. Ia tak habis pikir selama menikah dengan dengan suami nya ini malah semakin merumitkan jalan keadaannya. Dia kira akan merasakan indahnya keharmonisan rumah tangga nya kelak. Tapi ia salah besar.

Wajahnya sayu dan agak pucat. Matanya sedikit ada lingkaran hitam. Diliriknya jam dinding ruang tamu sudah pukul 11 malam.

"Abang itu gak pernah peka! Abang jahat! Sering nyakitin adek! Adek ini kan istri Abang, perempuan nya Abang juga! Apa sih salahnya adek bermanja sama Abang? Kalo Abang ga suka manjain adek bilang harusnya dulu waktu ta'aruf. Kan adek dah bilang. Adek ini kelewat manja. Tapi Abang jawabnya ga papa, wajar perempuan. Sekarang seperti ini???" Ia mengusap wajahnya yang dibanjiri air mata. Tak ingin terlihat cengeng selalu di depan suami nya ia menyimpan rasa tangisnya. "Kalo Abang ga suka adek di sini sama Abang. Ya sudah, Abang tinggal bilang sama Abi kalo abang gak mau jaga adek lagi!"

"Bukan gitu dek....."

"Iya tau iya! Adek sama Abang tuh beda pemikiran, makanya kek gini terus...."

"Bukan masalah itu juga kok.... Adek deng....."

"Ih! Adek dari tadi mau nyambungin dipotong terus!" Abang tuh kalo suka sama temen temen Abang, yaudah dong bilang sama adek. Kalo ga suka adek jadi pendakwah juga bilang dari dulu. Kenapa coba mau nikah sama adek?"

"Adek... Ga gitu sayang... "

"Tauk! Adek mau nangis di kamar sebelah aja! Abang tidur sendiri ya?" Kata sang istri dengan suara merajuk nya. Sang suami hanya menghela nafasnya mengangguk mengiyakan istri nya meredam emosi sesaat.

Selalu seperti ini tiap hari. Dah berjalan 6 bulan tapi tak kerasa apa apa... Kebutuhan rumah dan lain lain saja masih banyak ditanggung orang tua. Gaji mengajar saja mana cukup tuk mereka berdua. Kerja malam yang sedikit menguras tenaga. Meski penghasilan nya tak seberapa.

Mereka kurang diskusi, dan akhirnya terpandangan sebelah mata saja.

*****************************************

Paginya, Faizah memasak sesuai kegiatan sehariannya. Qois, sang suami biasa baru pulang dari masjid jam 6 pagi nya karna mengajar anak anak muda mengaji dan hafal Al Qur'an. Tapi ini rutinitas harian yang mereka kerjakan. Banyak waktu yang sersita dari mereka, karna keduanya masih sibuk dengan kuliahnya yang muda. Baru sama sama menginjak semester 4 tapi pertengkarannya sudah luar biasa dirasakan keduanya.

"Assalamu'alaikum..." Ucapan salam dari luar menghentikan kegiatan Faizah yang sedang menata meja makannya. Ia bergegas memakai jubahnya dan kerudung yang panjang menutupi dada. Karna ketika ia membuka pintu rumah kontrakan nya sudah terlihat jelas pandangan ke luar yang daerahnya masih amm atau umum. Jadi tak diperbolehkan kalau terlihat auratnya.

"Wa'alaikumsalam..." Jawabnya dan menyalami tangan suami nya. Sajadah yang di tangan Qois sudah berpindah alih di tangan Faizah. Ia ingin jadi istri yang patuh Sholihah. Semarah apapun, tugas seorang istri tetap dinomor satukan.

"Abang kalau mau mandi sudah adek siapkan air panasnya. Tinggal dikasih air dingin nya untuk dihangatkan." Ucapannya tak seperti biasa. Sekedar informasi saja menurut Qois, mungkin istri nya masih marah karna kata kata nya tak pernah ia dengar. Padahal wajar saja seorang istri seperti itu ketika suami salah tetap harus mendapat teguran.

"Iya.. Abang mandi dulu ya?" Katanya sembari mengacak rambut Faizah yang tertutup kerudung. "Adek kok jadi pendiam?" Tanya Qois ketika melewati dapur. Ia mengambil gelas dari rak tetapi gerakannya terhenti ketika sang istri gesit mengambilkan gelas dan menuangkan air untuk diminum suami nya. "Makasih" senyum nya tak bisa ia buat buat kalau seperti ini istri nya memang selalu terlihat manis. Begini rasanya dicintai penuh dengan istri.

Faizah kembali melanjutkan tatanannya d dapur sedang Qois sang suami mandi.

S3telah keduanya selesai dengan rutinitas persiapan kuliah. Terkhirnya mereka sempatkan sarapan bersama, terkadang mengobrol sampai bercanda dengan gelak tawa Faizah seperti biasanya. Mengomel pun andalan mereka saling berbicara. Tapi tidak dengan kali ini. Keduanya bungkam. Hanya dentingan suara sendok dan piring yang mengengungkan ruangan.

"Adek berangkat dulu ya bang?" Faizah berdiri yang siap dengan tas punggung kecilnya seperti biasa. Ia mengambil tangan sang suami tuk diciumnya.

"Abang antar ya? Kayaknya adek sakit.." tanya Qois sembari mengusap kepala istri.

Faizah menggeleng menjawab tidak.

"Assalamu'alaikum" salam nya ketika hendak keluar rumah.

"Wa'alaikumsalam"

Tak sampai membuka pintu rumahnya tapi gerakannya sempoyongan seperti ingin ambruk. Dengan cekatannya Qois berlari menahan Istri nya agar tak jatuh. Dipegangnya dahi sang istri ternyata demam. Pantas daei semalam marahnya terlaluan. Tak seperti hari hari biasanya.

"Adek istirahat aja ya?"tanya Qois. Bukan pertanyaan tapi tekanan agar Faizah tidak keluar rumahnya karna tidak enak badannya. Diaangkatnya badan sang istri tuk dibaringkan di ranjang kamarnya. Kakinya di selonjorkan dipijatnya perlahan sesuai ritme pijatan. Suami nya pandai sekali kalau memijat, rasanya bikin Faizah enak jadinya. Kali ini Faizah hanya diam meresapi rasa pijatan suami nya.

"Maafin Abang ya dek?" Tangannya masih setia memijat kaki istri nya. Rasa urat urat nya masih kaku. Terlalu capek.

" Abang minta maaf terus"kata Faizah tanpa menoleh pada sang suami karna ingin menahan air mata yang terbendung di pelupuk matanya. "Adek ga papa kok.. ga bakal manja lagi.. ga nyusahin Abang lagi.." ucapnya sedikit menangis.

Tangan Qois berhenti. Ia duduk di pinggir ranjang tempat istrynya tidur memalingkan wajahnya. Tapi Faizah malah memalingkan wajahnya ke kiri, tangan kirinya mengusap air mata yang perlahan jatuh.

"Maafin Abang sayang..."ucapnya penuh sesal. "Abang ga pernah ngertiin adek.. maaf ya" mengelus tangan sang istri nampaknya istri nya belum siap tuk melihat wajahnya lagi. Marahnya terlalu panjang. Biasanya kalau sudah marahnya parah sampai lupa waktu. Kalau tak suami yang bersuara memohon buat bersuara, mana mau nya sang istri bersuara kembali.

"Ga papa.. adek yang kelewat manja. Adek diem aja deh. Adek takut salah salah terus negur suami."

"Ya enggak gitu juga dong.."

"Terus gimana? Adek kan emang kelewat manja. Bikin Abang kewalahan sama sikap kekanakan nya adek. Adek nyesel, maafin yaa?"

"Adek ga nurut sama Abang sih.. bandel" tangannya usil menjawil hidung Faizah.

"Abang keluarrrrrrrrr!" Teriak nya lagi. Qois terpaksa menuruti keinginan istri. Entah kenapa akhir akhir ini berbeda dengan sebelumnya. Hari hari nya malah bertambah runyam. Hidup tak nyaman karna banyaknya tekanan. Masalah kuliah yang tak ada beresnya, kerjaan yang tak rampung di malam harinya. Membuat batas batas kami berinteraksi seperlunya.

Ah, jika diingat kembali betapa ia sangat mengejar istri nya dari dahulu, meski sangat dingin sikapnya pada lelaki. Tak ayal, si Qois yang super kepo akhirnya jatuh cinta pada sosok istri nya sekarang. Entah apa yang dirasakan Qois hari ini ia mengerti betapa istri nya teramat cerewet dengan segala kelalaian atau sikap sikap yang tidak harusnya ada dari seorang muslim. Bagaimana sikap nya seseorang kepada lawan jenis dan berbagai tantangan yang masih asing dilakukan Qois pun masih lengah tuk meninggalkan. Apalagi teman teman yang mulai bertanya tanya tentang berubahnya dirinya semenjak menikah dengan Faizah. Istri yang dikiranya super pendiam tapi dibalik semuanya itu sangat sangat hiper aktif. Apalagi soal percekcokan. Tidak ada yang mau ngalah. Alhasil diam pilihannya.

##############

😂😂 Hasil dari beberapa cerita nyata yang kurampung jadi satu cerita... Hasil nguping para pasangan😆 plis. Yang nulis masih jomblo🤣 tak sesuai realita...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMI PENANTIAN LUKA #1

Bukan Sekadar Teori

Edisi Ramadan_Bersama dalam Ketaatan