Ketika Menikah Denganku?! #2





Oktober 2018

Satu bulan cukup bagi Faizah beradaptasi dengan lingkungan kampusnya. Meski terbilang agak terlalu cuek menurut teman temannya. Faizah tak memperdulikan. Yang terpenting ia bisa menjalankan perannya di area ini untuk sedikit memberantas pemikiran mereka mereka yang terlanjur liberal. Apapun resiko sudah dia kantongi matang. Tentang pemikirannya yang bertolak belakang dengan langkah tujuan kampus. Ia tak peduli.

Mulanya, satu dua temannya mulai nyaman berada di dekatnya. Yang penting loyal saja pada sesama. Terlebih bisa meniru pun tidak masalah selama tidak melanggar syariat.

”ini buletin apa?” tanya Rizal. Teman sekelas Faizah yang kepo nya tiada banding dengan yang lain. Entah ia dapat darimana buletin itu Faizah tak tau.

Faizah melirik sekilas apa yang ditanyakan. Posisinya hanya bersebrang beberapa bangku kelasnya. ”ohh itu buletin organisasi ku”jawab seadanya.

”organisasi apa? Kampus?”


”enggak” sejutek mungkin Faizah menanggapi

”terus apa?” Rizal makin penasaran menggebu.

”kepo banget dirimu. Baca aja kenapa?” dengan suara yang dibuat setenang mungkin.

Setelah beberapa menit berlalu, Rizal tak bertanya lagi. Berulang kali Rizal membaca sampai tahapan memahami setiap makna. Cukup tersanjung dengan bahasan di buletin yang dibaca sekarang ini. Tak pernah ia menemukan segini detailnya solusi nya.

”kamu ikut apa sih?” tanyanya yang berpindah duduk di depan Faizah

Faizah diam. Tak menjawab. Daripada berkelit panjang dengan Rizal, sudah mending Faizah pergi keluar kelas.

Tak dinaya, Rizal ikut membuntuti Faizah di belakang. Terlepas dengan penasarannya, ia ingin sedikit tau aktifitas di luar jam kuliah bersama dan sedang apa. Terlaluan terlihatnya. Tapi, kepo nya makin nyala berapi.

”Fa!” panggil Rosya dari kejauhan sambil melambaikan tangannya.

”alhamdulillah” syukur Faizah. Karna bisa menghindar dari Rizal.

”ada urusan apa dengan Rizal?”

Ah, Faizah lupa betapa sahabat yang baru dikenalnya sebulan lalu ini benar benar kepo kebangetan. Kenapa harus dikerubuti dengan manusia kepo?

”nggak papa kok.. yuk!” ajak Faizah pada Rosya.

”aku masih kepo lho” kata Rosya setibanya mereka di kantin.

”kalian kenapa sih kepo banget!”seloroh Faizah.

”Rizal tuh aneh waktu ngikutin kamu. Kayak ada nyala kekepoan yang banget melebihi biasanya. Padahal, dia gak sebegitu nya kepo urusan orang”

”masa bodo. Dia tadi tuh tanya soal aku dan buletin yang biasa aku sebar ke beberapa temen. Nah, saking kepo nya, tuh anak samp3 ngikut gitu”

”hem gitu”

”iyah”

”eh, eh, tau gak yang barengan sama si Rizal siapa?” Tunjuk Rosya dengan arahan kepala.

”enggak mau tau”kata Faizah menggidikkan bahu tak peduli.

”nggak gitu Fa, dia tuh anak LPM yang ketemu di kantor LPM waktu kamu daftar itu? Inget gak?”

”mau dilupa aja sulit sih. Emang kenapa? Suka ya?”

Ada sedikit ketegangan mengucapkan semacam itu. Pasalnya, sangat bertolak belakang dengan keadaan hatinya.

”enggak sih... Ganteng aja gitu, senyuman nya manis kayak gulali..” Rosya sambil mempraktekkan gaya gaya muka manis.

”hus! Matanya dijaga non! Ya ampun, udah baca buku 'udah putusin aja' masih suka begitu. Dosa lho, kan udah tau hukumnya”

”abis dia suka bikin kesemsem terus tauk... Meleleh adek jadinya”

”idih... PD amat kamu Sya!”

”bener lho!”

”suka suka kamu lah. Ora ngurusi!”

”hallah, nanti kamu juga suka kalo sering interaksi sama dia nanti. Kenapa kamu suka cuek gitu sama cowok? Haduh, Sampek gak kebayang dah gimana suami kamu nanti”

”itu kan beda Sya!”

”waduh. Ada galak nya juga ya kamu?”

”jangan lupa ya Ahad ini datang kajian di masjid rumahku”

”siap. Apa sih yang enggak buat kamu?”

"Jangan karna aku dong. Buatin betul karna Allah"

”siap Nyonya!” ucapnya sambil mengangkat tangan hormat.

Rizal dan Faiq tiba tiba datang tanpa diundang duduk di meja yang sama. Kedua sahabat sejoli langsung membelalak karna tak tau nya ada di depan.

Sesaat Faizah bangkit dari duduk nya, menggendong tas ransel nya kembali untuk pindah meja lain. Tapi satu tangan Rizal mencekal tangan Faizah yang kiri. Yang dipegangnya tentu sangat terkejut dan melototi sang dara.

”eh, Afwan, ga sengaja. Tapi, jangan pergi dulu, kita mau diskusi”

”apalagi?” Faizah kembali duduk matanya tak nyaman dilihat, lirikannya

###########

Di kampus. Pagi ini Faizah datang lebih awal dari biasanya. Karna butuh Tebengan motor sang abinya, jadi harus pergi lebih pagi. Suasananya masih terlalu sepi dari kemaren kemaren. Bahkan warna langit pun belum sepenuh nya terwarnai matahari. Ia menerawang, mengamati seisi kampus yang dijalaninya. Tak ada mahasiswa yang berkeliaran, hanya beberapa tukang bersih yang bersih bersih kelas.

Faizah mengambil sesuatu di loker nya. Ia mulai membuka lembar demi lembar buku pemberian seseorang yang beberapa tempo. Awal dipikirnya, ia tak bisa menerima isi itu. Tapi karna desakan sang pemberi, jadilah ia terpaksa mengambil tanpa membuka isinya.

Di kelas, ia buka bungkusan yang ternyata notebook seperti yang ia bawa seharian. Halnya lain dengan note book sebelumnya.

Cover depannya sudah di desain khusus dengan tulisan 'Menulislah' dengan corak gambar dan tulisan yang dibuat kreasi. Lalu halaman paling awal ia kembali dikejutkan dengan tulisan yang membuatnya sedikit desiran aneh. 'ketika menikah denganku?'

Faizah kembali mensupport jantungnya untuk tidak melambungkan perasaannya seketika. Ia tau, ini masih awal perjalanannya. Awal masanya ia mengenal dunia bebasnya dari pesantren dulu yang sangat diperketat pergaulan. Tapi yang sekarang dijalaninya tidak sana dengan lalu lalu. Karna sekarang, pondasi imannya diri sendiri. Yang berhak sadar atas tindakan yang tidak dilebihkan, bentengnya adalah diri sendiri.

'astaghfirullah' Faizah kembali mendesah lesu. Antara ingin membaca kelanjutan buku tersebut. Ia dirundu kecemasan teramat karna telah menerima sesuatu yang takut sebenarnya ia terima. Air matanya mulai meleleh seolah membahasakan dirinya benar benar salah.

"Assalamu'alaikum"

"Astaghfirullah" Faizah kalang kabut. Terkejutnya karna tiba tiba ada orang di luar kelas ang yang ia tempati sekarang. "Wa'alaikumsalam. Saya kira siapa.." ucapnya tanpa merasa bersalah.

"Oh, maaf membuat kaget"

"Yah. Tidak apa"

"Boleh bicara sebentar?"tanya lagi laki tersebut yang badannya setengah menengok di kelas itu dan setengahnya lagi di luar kelas bertumpu pada pintu kelas.

"Tt-tidak! Tidak boleh berbicara berdua! Assalamu'alaikum!" Setelahnya Faizah pergi meninggalkan kelas.

Faizah takut jadi kebablasan. Alasan Qois, sang pria yang mengajaknya berbicara tadi mungkin saja tidak penting. Dan Faizah takut akan menimbulkan rasa rasa semakin membuncah. Ia pendam sedalam mungkin untuk tidak melampiaskan pada siapapun tentang rasa yang mulai ia simpan dari dulu. Harusnya, ia tak demikian menanam kan rasa pada makhluk Allah.

##############

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEMI PENANTIAN LUKA #1

Bukan Sekadar Teori

Edisi Ramadan_Bersama dalam Ketaatan