Dream Written
Part 1
.
Harapan, Impian, dan semua Cita cita yang kita inginkan adalah buah dari sebuah rencana. Dengan nya kita bisa berpetualang merasakan panjang kebersamaan yang banyak berkreasi. Suka ataupun tidak mereka pada seseorang, jika keterikatan kuat impian dan perjuangan. Maka tak seorang yang bisa meloloskannya kecuali, Takdir. Hak paten yang gak bisa kita serbu mati Matian. Sekalipun kita bertahan untuk menolak, Takdir itu pasti terjadi. Sesuatu yang bisa jadi sesuai apa yang kita harapkan, dan kebanyakan tak sesuai yang diharapakan. Sebanyak apapun kau berencana, ketika Allah tak mentakdirkan sesuatu itu untukmu. Yakinlah. Itu bukan takdirmu. Melainkan, hal lain yang akan mengubah pilihanmu menjadi lebih baik.
.
Matangnya keberhasilan bukan tentang cepat cepatnya kau merealisasikan impian. Tapi, setidaknya, kau punya harapan dan angan-angan dengan rasa tindakan yang tak kalah kau kebutkan. Hidup ini mistis. Jangan kau semakin menjadi mistis dengan segala arah bual masadepanmu yang gemerlap. Titik titik dimana kau berjuang tapi kau lupa peluh Kelumu yang membelenggu mu tak terbitkan takdir sesuai yang kau inginkan. Tak apa. Karena masih ada esok berjumpa dengan kesiapan yang lebih kuat.
.
Malam hari ditemani semilir angin bertaburan bintang bintang. Tak ada pengganggu kecuali dia yang merencanakan. Dia bermimpi, membayangkan esok mimpi itu segera terbit. Bersama lagu damai menarikan rencana rencana yang telah disusunnya. Rapat! Sampai, tak ada yang tau perjalanan itu akan berakhir pada titik apa.
.
Suara alunan surah Ar Rohman mengusik bunga mimpinya. Dan seketika ia merogoh ponselnya yang di geletakan di atas balas kamar apartemen nya.
.
"Assalamu'alaikum.." Suara sapaan disembrang yang selalu dirindukan nya. Suaranya, tata tutur kata yang elok didengarkannya. Tak ada kata bosan untuk berlama lama dengan ya.
.
"Wa'alaikumsalam umiiiiiiii" Balasnya tak kalah girang. Senyumnya sudah terbit tatkala melihat nama yang menelpon nya.
.
"Kenapa gak telpon? Udah berapa hari gak berkabar? Nanti kalo ada apa apa kan umi jadi gak tau? Umi khawatir berkepanjangan kamu gak nelpon. Kirain sibuk amat dah" Serunya panjang lebar.
.
Shasa hanya tersenyum. Sebentar saja mendengar nada itu membuat jiwanya tenang. Ia harus tau, dikala memilihnya untuk berhijrah. Harus totalitas! Tak boleh ada yang terlewatkan.
.
"Hehehe... Iya nih um.. persiapan ujian Nasional nya bikin keteteran sama waktu. Kirain jam segini umi udah tidur. Takutnya kan ganggu"
.
"Duh... Umi gak pernah merasa terganggu. Kamu sehari aja gak kasih kabar ke umi bikin cenat cenut hati umi. Gak tenang rasanya"
.
Ah, umi. Selalu terdepan mempersoalkan Shasa. Gadis itu tersenyum dibalik telpon. Ia berpikir keras, betapa umi satu ini merindukan dirinya. Sampai hati ia berkeinginan sekolah di luar kota. "Iya.. maaf ya um"
.
"Bukan maaf yang umi mau. Umi cuma kamu kasih kabar ke umi. Atau nggak ke kakak kamu"
.
"Lho, iya, si kakak apakabar ya umi? Kangen juga nih adek"
.
"Dia malah yang bikin umi sepanik ini"
.
"Duh, kakak kesayangan aku..."
.
"Pokoknya umi gak mau kamu sendiri lagi"
.
"Eh, maksud umi gimana nih? Shasa gak boleh sekolah lanjut nih mi?"
.
"Bukannya gak boleh. Boleh banget asal......." Ucapnya menggantung. Sedikit tertawa ingin mengungkapkan kemauannya. Tapi, demi kebahagiaan putrinya, ia rela meski harus berpisah sejak lama. Bahkan sampai sekarang dengan kondisi yang amat rindu.
.
"Apa mi? Jangan bikin penasaran" Dengan nada manjanya.
.
Wardah, ibunya. Sangat merindukan suara suara imut manja dari sang anak satu ini. Memberikan Kerinduan yang tiada pernah bisa ia lepas. "Kamu mau kan?"
.
"Iya. Mau apa dulu mi? Nanti aku pertimbangkan. Asal umi bahagia" Ucapannya tak penuh penyesalan. Lantas, ia mulai berpikir. Tapi sulit menemukan jawabannya. Karena ini pembicaraan paling serius yang pernah ia tau.
.
"Kemaren kakak kamu ada tamu" Jeda. Sedikit lama sampai Shasa menahan greget untuk tidak memberontak dengan kepo nya. "Ada sesuatu yang bisa umi ridhoi buat kamu menjalankan hidup mu nanti"
.
"Ya mi? Apa itu?" Suaranya mengecil. Menahan kata yang tak ingin diungkapkan.
.
"Menikah lah!"
.
"Astaghfirullah umi. Kok gitu sih? Kemaren kan perjanjian nya gak gitu? Kok malah dirubah sih? Ah, umi.... Mana bisa begitu? Shasa terlalu imut untuk mikirin hal demikian"
.
"Yaa biar hati umi tenang. Kamu boleh memilih cita cita kamu. Kemanapun kamu mau. Kalo kemaren kamu Travelling sama temen temen aja. Nanti, nggak lagi. Umi nih begini khawatir sayang.."
.
"..."
.
"Jangan terlalu dibebankan. Pikirkan perkataan umi matang matang. Nanti kalau sudah benar matang keputusan kamu. Bolehlah kamu bilang. Salam buat teman teman kamu ya? Jangan dianggap beban... Umi cuma karena sayang kamu"
.
"...."
.
"Assalamu'alaikum"
.
"Wa-wa'alaikumsalam"
.
.
.
❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️
.
.
.
Ini yang ia khawatirkan. Jauh sana ia ingin bertemu dengan dia yang ia mau. Dengan cita cita yang matang dan keadaan diri yang juga matang. Ia hanya sejenak menjauh dari masa pertikaian hati. Seolah ingin menggebu karena jarak dan rindu yang membelenggu.
.
Sesaat, dia tercenung menikmati haluannya yang berkepanjangan. Berpikir pada poros yang salah. Melabuhkan hati yang tak semestinya ia luangkan. Menitih cinta di jalan yang salah. Ia terlampau mengerti, ketika seseorang yang tak bisa menghilangkan nafsu sematanya karena cinta, alangkah berpuasalah.
.
Baby Ceriwis
.
[Beib, assalamu'alaikum gaes:^)] Fay Comel
.
[Wa'alaikumsalam. Ellah... Paan? Tumbenan;)] Dangers Yaya
.
[Wa'alaikumsalam ukhty ^_^ ada apa?] Salamah Agamis
.
[Wa'alaikumsalam. Paan woy?] ~me
.
[Pada tau belum?] Fay Comel
.
[Kagak*] Dangers Yaya
.
[Ya ampun. Kalian ku harus tau ya, kak Faris. MG..... Gilak. Ganteng bener. Aku baru aja tadi kelihatan •^•] Fay Comel
.
Krik.. krik..
.
Belum ada jawaban.
.
[Dan, satu hal lagi yang bikin kepalang sedihnya ampunnnnnnn]
Sent a Picture] Fay Comel
.
Dan dunia seoalah runtuh. Perasaan yang pernah ia tahan. Tak menjadikan dirinya menetap dari bagian. Selamat, anda gagal :-!
.
2 hal yang berbeda. Tapi menyatukan suasana dalam diri Shasa. Ia mengambil buku tentang kisah masalah tempo lalu sewaktu sang prajurit Osis menemukan dirinya yang melanggar banyaknya aturan. Lalu, satu hal yang tak bisa ia hilangkan dalam ingatan. Kata kata itu seoalah menancap penuh dalam dirinya.

Komentar
Posting Komentar